News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kunjungi Indonesia, Yohei Sasakawa Bawa Misi Deteksi Dini dan Edukasi Kunci Bebas Kusta

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PEMBERANTASAN KUSTA - Duta Besar Kehormatan WHO untuk Pemberantasan Kusta sekaligus Ketua Nippon Foundation, Yohei Sasakawa, saat konferensi pers di Kempinski Hotel, pada Jumat malam (16/1/2025). Dia telah mengabdikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk satu misi kemanusiaan: membantu mengentaskan kusta di berbagai belahan dunia.

"Jika masyarakat memahami bahwa kusta bisa dicegah dan disembuhkan, maka rasa takut dan stigma akan hilang,” tutur Arnold di kesempatan yang sama.

Sementara itu, Samsul, penyintas kusta sejak 1999, mengaku sempat mengalami diskriminasi akibat minimnya pengetahuan masyarakat. Namun, seiring pemahaman yang meningkat, lingkungan di sekitarnya mulai menerima kembali hingga ia dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Menurutnya, penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, terutama kepada guru dan masyarakat umum, menjadi kunci menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit menakutkan dan tidak dapat disembuhkan.

Kenali Gejala Kusta

Dikutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Terjadinya kusta merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yaitu pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan. Penularan terjadi melalui kontak yang erat dan berkepanjangan dengan seseorang yang terinfeksi kusta.

Gejala kusta dapat ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, kulit yang tidak berkeringat, rontoknya alis mata, penebalan pada wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki.

Baca juga: Kemenkes: Dua WNI Terinfeksi Kusta di Rumania Bakal Dipulangkan ke Indonesia

Gangguan pada saraf juga dapat terjadi, seperti nyeri pada saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk atau nyeri pada anggota gerak, kelemahan otot atau kelopak mata, disabilitas atau deformitas tanpa riwayat kecelakaan, serta ulkus yang sulit sembuh.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia masih mencatat belasan ribu kasus baru kusta setiap tahunnya.

Pada tahun 2023 saja, ada total 12.798 kasus baru, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan beban kusta tertinggi di dunia.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini