News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kunjungi Indonesia, Yohei Sasakawa Bawa Misi Deteksi Dini dan Edukasi Kunci Bebas Kusta

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PEMBERANTASAN KUSTA - Duta Besar Kehormatan WHO untuk Pemberantasan Kusta sekaligus Ketua Nippon Foundation, Yohei Sasakawa, saat konferensi pers di Kempinski Hotel, pada Jumat malam (16/1/2025). Dia telah mengabdikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk satu misi kemanusiaan: membantu mengentaskan kusta di berbagai belahan dunia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --  Yohei Sasakawa telah mengabdikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk satu misi kemanusiaan: membantu mengentaskan kusta di berbagai belahan dunia.

Duta Besar Kehormatan WHO untuk Pemberantasan Kusta sekaligus Ketua Nippon Foundation ini telah mengunjungi 127 negara untuk mendorong deteksi dini, pengobatan, serta penghapusan stigma kusta.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Sasakawa sempat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat. Pertemuan itu membahas tantangan eliminasi kusta di Indonesia. Indonesia adalah negara tiga besar endemik di dunia selain Brasil dan India.

Sasakawa mengatakan Prabowo menunjukkan dukungan penuh kepada pihaknya untuk melaksanakan berbagai kegiatan guna mengeliminasi penyakit ini.

“Saya telah menyediakan lebih dari 50 tahun hidup saya untuk mencoba memberantas kusta ini. Target saya adalah menurunkan jumlah kasus hingga nol di berbagai negara,” ujar Sasakawa saat konferensi pers di Kempinski Hotel, pada Jumat malam (16/1/2025).

Pria berusia 87 tahun ini menyebut Indonesia berperan penting dalam upaya penanganan kusta secara global.

Sayangnya, ada tantangan besar yang dihadapi Indonesia untuk memberantas kusta. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat banyak kasus kusta tidak terdeteksi sejak dini.

Sementara, kusta merupakan penyakit yang sering tidak menimbulkan rasa sakit atau demam di tahap awal.

“Kusta adalah penyakit tanpa gejala awal. Banyak orang datang berobat saat kondisinya sudah terlambat,” jelasnya.

Selain persoalan deteksi dini, stigma kusta merupakan kutukan atau hukuman Tuhan masih mengakar kuat di sebagian masyarakat.

Padahal, pengobatan kusta telah tersedia, terbukti efektif, dan disediakan secara gratis. Dengan pengobatan yang tepat, risiko penularan dapat ditekan dalam waktu singkat.

Baca juga: Indonesia Negara Ketiga Terbanyak Penderita Kusta, Yohei Sasakawa: Obati, Jangan Didiskriminasi

Tantangan tidak berhenti setelah pasien dinyatakan sembuh. Banyak penyintas kusta masih menghadapi diskriminasi sosial, seperti penolakan dari lingkungan sekitar, keterbatasan akses pendidikan, hingga harus hidup terpisah dari masyarakat.

Untuk meningkatkan kesadaran publik, Sasakawa Foundation mencoba melakukan pendekatan ke generasi muda dengan menggandeng influencer Arnold Saputra.

Peran anak muda sangat penting dalam menyebarkan informasi yang benar tentang kusta kepada masyarakat luas.

Dalam pemaparannya, Arnold akan berkontribusi untuk menyuarakan upaya penyembuhan kusta, dan pesan ke masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita kusta.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini