TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) mengingatkan bahwa osteoporosis tidak hanya menyerang lansia, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak.
Rendahnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta faktor genetik menjadi sejumlah risiko yang perlu diwaspadai sejak usia dini.
Ketua Umum PB PEROSI, Dr. dr. Tirza Z Tamin, SpKFR, M.S(K), FIPM(USG), menekannya pentingnya kesadaran masyarakat, khususnya orang tua dan sekolah, dalam menjaga kesehatan tulang anak.
"Jangan anak-anak ini dari kecil ya diberikan playgame ya, junk food, ah itu jadi dia imobilisasi diam aja ya kan cepat ya obesitas itu kan buat osteoporosis itu cepat," ujar Tirza.
Menurutnya, kebiasaan kurang bergerak pada anak dapat berdampak serius terhadap kekuatan tulang di masa depan.
Padahal, masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan massa tulang.
Dirinya menilai, pencegahan osteoporosis seharusnya dimulai sejak dini dengan mendorong anak untuk tetap aktif secara fisik dan memiliki pola hidup sehat.
"Jadi kita bagaimana anak-anak kita ini supaya dia tetap aktif terus," kata Tirza.
Selain peran keluarga, PEROSI juga menyoroti pentingnya lingkungan sekolah dalam membangun kebiasaan hidup aktif. Kegiatan ekstrakurikuler dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat tulang dan otot anak.
“Jadi ibu-ibu di rumah ini dan juga di sekolah ya ekstrakurikulernya itu jangan, menari ya misalnya, sepak bola dan sebagainya, jadi menguatkan tetap dari kecil itu menguatkan ya otot tulang itu,” katanya.
Wakil Ketua Bidang 1 PB PEROSI, Dr. dr. Rudy Hidayat, SpPD-KR, menambahkan bahwa osteoporosis pada usia muda, termasuk anak-anak, kerap luput dari perhatian.
“Kebanyakan usia tua, iya kebanyakan itu, tapi yang tadi usia muda, anak-anak itu juga bisa terkena,” ujar Rudy.
PEROSI menggelar pelatihan dan workshop nasional bagi dokter spesialis dan subspesialis di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) sebagai upaya meningkatkan kompetensi penanganan osteoporosis secara multidisiplin.
Pelatihan ini diikuti sekitar 72 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Medan, Bali, Banjarmasin, Papua, hingga sejumlah kota di Jawa seperti Surakarta dan Semarang. Seluruh narasumber berasal dari pengurus PB PEROSI lintas disiplin ilmu.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Rosy Setiawati, SpRad-K, Anggota Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat PB PEROSI, menyebut osteoporosis kerap disebut sebagai silent killer karena sering tidak disadari hingga terjadi patah tulang.
Baca tanpa iklan