Karena itu, dokter menekankan pentingnya evaluasi medis sebelum memutuskan berpuasa.
Menurutnya, tenaga kesehatan memiliki peran besar dalam membantu pasien diabetes menjalani Ramadhan secara aman.
Tidak semua pasien memiliki kondisi yang sama, sehingga pendekatannya harus bersifat individual.
Penilaian Risiko Jadi Kunci Aman Puasa
Untuk menentukan apakah pasien diabetes boleh berpuasa, dokter menggunakan sistem stratifikasi risiko dari International Diabetes Federation.
Sistem ini membagi pasien ke dalam kategori risiko rendah, sedang, dan tinggi.
“Jadi, sebetulnya nggak semua pasien aman, ya. Jadi, memang ada penilaian resiko tersendiri,” jelas dr. Helmi.
Pasien dengan risiko rendah umumnya masih diperbolehkan berpuasa. Risiko sedang dapat berpuasa dengan pemantauan lebih ketat.
Sementara pasien dengan risiko tinggi tidak direkomendasikan berpuasa karena peluang terjadinya komplikasi sangat besar.
Penilaian risiko dilakukan sebelum Ramadhan dengan melihat berbagai faktor penting.
Dokter akan mengevaluasi kepatuhan pasien minum obat, pemahaman tentang penyakit, serta kontrol gula darah seperti HbA1c dan gula darah puasa.
Selain itu, riwayat hipoglikemia dalam beberapa bulan terakhir, jenis terapi yang digunakan, baik insulin maupun obat oral.
Serta adanya komplikasi seperti trombosis atau infeksi juga menjadi pertimbangan. Kondisi komorbid seperti gagal ginjal, gagal jantung, usia pasien, hingga kemampuan melakukan self-monitoring ikut dinilai.
Semua faktor tersebut dihitung menggunakan sistem scoring dari International Diabetes Federation untuk menentukan kategori risiko pasien.
Konsultasi Sebelum Ramadan
Dengan banyaknya faktor yang memengaruhi keamanan puasa, konsultasi medis sebelum Ramadhan menjadi langkah krusial bagi penderita diabetes.
Evaluasi ini membantu dokter memberikan rekomendasi yang paling sesuai dengan kondisi pasien.
Baca tanpa iklan