“Perkembangan teknologi wearable device dinilai semakin memperkuat upaya deteksi dini tersebut. Perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pelacak kebugaran kini telah berevolusi menjadi alat skrining medis real-time,” kata dr. Ardian.
Integrasi sensor fotoplethismografi (PPG) dan elektrokardiogram (EKG) satu sadapan memungkinkan pemantauan irama jantung berlangsung terus-menerus di luar rumah sakit.
Teknologi ini membantu mendeteksi episode fibrilasi atrium yang bersifat hilang-timbul dan kerap terlewat dalam pemeriksaan konvensional.
Meski teknologi memberi kemudahan, dr. Ardian mengingatkan masyarakat untuk tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat digital.
Wearable device berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penentu diagnosis medis.
“Tapi perlu dipahami bahwa teknologi tetap punya keterbatasan. Perangkat ini berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penegak diagnosis medis,” tegasnya.
Ia meminta pengguna menindaklanjuti setiap notifikasi gangguan irama jantung dengan pemeriksaan EKG klinis 12 sadapan oleh dokter jantung.
Konfirmasi medis memastikan diagnosis akurat sekaligus menentukan terapi yang tepat. Kesadaran terhadap irama jantung kini menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.
Melalui kebiasaan sederhana seperti metode MENARI dan pemanfaatan teknologi secara bijak, masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam mencegah stroke dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Baca tanpa iklan