News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kasus Fibrilasi Atrium Melonjak, Deteksi Dini Bisa Selamatkan dari Stroke

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gangguan irama jantung yang sering luput dari perhatian kini menjadi sorotan serius karena trennya terus meningkat di Indonesia dan berpotensi memicu stroke jika tidak terdeteksi sejak dini.

“Perkembangan teknologi wearable device dinilai semakin memperkuat upaya deteksi dini tersebut. Perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pelacak kebugaran kini telah berevolusi menjadi alat skrining medis real-time,” kata dr. Ardian.

Integrasi sensor fotoplethismografi (PPG) dan elektrokardiogram (EKG) satu sadapan memungkinkan pemantauan irama jantung berlangsung terus-menerus di luar rumah sakit. 

Teknologi ini membantu mendeteksi episode fibrilasi atrium yang bersifat hilang-timbul dan kerap terlewat dalam pemeriksaan konvensional.

Meski teknologi memberi kemudahan, dr. Ardian mengingatkan masyarakat untuk tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat digital. 

Wearable device berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penentu diagnosis medis.

“Tapi perlu dipahami bahwa teknologi tetap punya keterbatasan. Perangkat ini berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penegak diagnosis medis,” tegasnya.

Ia meminta pengguna menindaklanjuti setiap notifikasi gangguan irama jantung dengan pemeriksaan EKG klinis 12 sadapan oleh dokter jantung. 

Konfirmasi medis memastikan diagnosis akurat sekaligus menentukan terapi yang tepat. Kesadaran terhadap irama jantung kini menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. 

Melalui kebiasaan sederhana seperti metode MENARI dan pemanfaatan teknologi secara bijak, masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam mencegah stroke dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini