TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan kedokteran fetomaternal, dr. Astrid Fransisca Padang, Sp.OG, Subsp. K.Fm mengingatkan pentingnya deteksi dini kanker serviks dilakukan secara rutin sepanjang hidup perempuan.
Menurutnya, risiko kanker serviks tidak otomatis hilang meski seorang perempuan telah berusia lanjut atau tidak lagi aktif secara seksual. Karena itu, pemeriksaan rutin tetap diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan perubahan sel sejak dini sebelum berkembang menjadi kanker.
Baca juga: Merasa Sehat Bukan Jaminan, Ini Pentingnya Pap Smear dan Vaksinasi untuk Antisipasi Kanker Serviks
“Sampai usia berapapun kita masih bisa kena kanker serviks. Bahkan saya pernah menemukan pasien usia di atas 90 tahun masih mengalami kanker serviks,” ujar dr. Astrid dalam sesi talkshow bertema Own Your Health, Own Your Power: Empowering Women with Access, Choice, and Comfort to Own Their Health and Protect Their Future saat peluncuran layanan My HPV-Test dengan metode pengambilan sampel mandiri (self-collection) di Jakarta akhir pekan lalu.
Ia menekankan, pemeriksaan atau screening kanker serviks sebaiknya tidak dihentikan begitu saja. Pemeriksaan rutin minimal satu kali dalam setahun dinilai penting sebagai langkah pencegahan dan deteksi dini.
Selain membahas pentingnya screening, dr. Astrid juga menyoroti anggapan masyarakat mengenai keputihan yang sering langsung dikaitkan dengan kanker serviks.
Ia menjelaskan, keputihan memang dapat menjadi salah satu tanda kanker serviks, tetapi tidak semua kondisi keputihan bersifat berbahaya.
Baca juga: Perempuan Kini Bisa Skrining Kanker Serviks Mandiri Lewat CKG
“Keputihan itu banyak jenisnya. Ada yang normal, misalnya sebelum atau sesudah haid, atau saat hamil karena pengaruh hormonal,” katanya.
Menurutnya, keputihan juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain seperti infeksi bakteri, jamur, maupun parasit. Karena itu, pemeriksaan ke dokter tetap diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui secara pasti.
Astrid juga mengingatkan perempuan muda, termasuk yang belum menikah, agar tidak takut atau malu memeriksakan diri ke dokter kandungan ketika mengalami keluhan kesehatan reproduksi.
Ia menilai masih banyak perempuan muda yang menganggap dokter obgyn hanya berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Padahal, layanan kesehatan reproduksi mencakup banyak hal lain, mulai dari gangguan menstruasi, keputihan, hingga deteksi dini kanker serviks.
“Jangan takut atau malu datang ke obgyn. Dokter kandungan bukan hanya untuk wanita hamil, tetapi juga untuk kesehatan reproduksi perempuan secara keseluruhan,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah pihak menilai rendahnya partisipasi perempuan dalam screening kanker serviks masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rasa takut, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga stigma sosial.
"Karena itu, berbagai metode pemeriksaan, termasuk pengambilan sampel mandiri untuk deteksi HPV, mulai diperkenalkan guna meningkatkan partisipasi perempuan dalam melakukan screening," kata Dirut Prodia, Liana Kuswandi.
Baca tanpa iklan