TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selain pemeriksaan DNA HPV, perempuan Indonesia kini bisa skrining kanker serviks mandiri (self-sampling) lewat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG)
Wakil Menteri kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, integrasi ini sebagai upaya mempercepat deteksi dini dan menurunkan angka keterlambatan penanganan kanker serviks.
Dante menegaskan, mulai 2026 skrining kanker leher rahim dalam CKG akan disertai dengan tindak lanjut yang jelas bagi hasil skrining positif.
“Integrasi skrining ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis merupakan respon nyata pemerintah untuk mencegah keterlambatan penanganan dan progresivitas lesi pra-kanker,” ujar Wamenkes dalam kegiatan di kantor Kemenkes, Jakarta, baru-baru ini.
Ia mengatakan, kanker leher rahim masih menjadi kanker terbanyak kedua pada perempuan di Indonesia.
Baca juga: Empat Rumah Sakit Ini Jadi Pusat Pelatihan Penanganan Kanker Serviks
Sekitar 70 persen kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut, dan hampir 50 persen penderitanya kehilangan nyawa.
“Di balik angka ini, ada ibu, istri, dan anak perempuan yang memegang peran penting dalam keluarga dan masa depan bangsa,” ujar Wamenkes.
Menurutnya, persoalan kanker serviks harus dipandang sebagai persoalan sistemik yang memerlukan solusi komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan, bukan semata persoalan medis.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan pemeriksaan DNA HPV, termasuk melalui self-sampling, menjadi solusi atas rendahnya minat perempuan terhadap pemeriksaan konvensional.
“Dengan metode self-sampling, perempuan dapat mengambil sampel sendiri dengan pendampingan petugas kesehatan, sehingga lebih mudah, nyaman, dan dapat diterima,” jelasnya.
Program CKG sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah, sementara BPJS Kesehatan berperan pada tahap rujukan dan pengobatan lanjutan.
Penanganan lesi pra-kanker, termasuk terapi ablasi termal, telah disiapkan di fasilitas layanan primer seperti puskesmas agar hasil skrining dapat segera ditindaklanjuti.
Pemerintah berharap langkah ini dapat memperluas akses skrining, meningkatkan partisipasi perempuan, dan memperkuat upaya eliminasi kanker leher rahim pada 2030.
Ditambahkan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Tofan Widya Utami, metode pengambilan sampel mandiri (self-sampling) untuk skrining kanker leher rahim dinilai memiliki tingkat akurasi yang setara dengan pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Baca tanpa iklan