Merujuk bukti ilmiah dari berbagai penelitian berskala nasional maupun internasional, metode ini bukan pendekatan baru dan telah didukung oleh banyak studi berbasis riset multicenter.
Dalam skrining kanker serviks berbasis pemeriksaan DNA HPV, perempuan usia 30–69 tahun dapat diajarkan untuk mengambil sendiri spesimen lendir serviks melalui vagina.
Selama ini, pemeriksaan DNA HPV secara konvensional mengharuskan perempuan datang ke fasilitas kesehatan.
Lalu perempuan, menjalani pemeriksaan dengan posisi litotomi atau mengangkang di meja periksa, menggunakan alat spekulum untuk membuka vagina hingga terlihat leher rahim.
Meski prosedur dilakukan sesuai standar dan dengan pendekatan yang lembut, kenyamanan tetap menjadi tantangan besar.
Penggunaan spekulum justru menjadi salah satu hambatan utama yang membuat perempuan enggan datang ke fasilitas kesehatan untuk melakukan skrining kanker serviks.
Melalui metode self-sampling, perempuan dapat mengambil sampel sendiri dengan panduan dan pendampingan petugas kesehatan, tanpa harus menjalani pemeriksaan invasif.
“Pendekatan ini lebih nyaman, lebih dapat diterima, dan berpotensi menjangkau lebih banyak perempuan yang selama ini enggan melakukan skrining,” kata dokter Tofan.
(Tribunnews.com/ Rina Ayu Panca Rini)
Baca tanpa iklan