Dalam sesi teknis, dr. Charley Dokma Tua Simanjuntak, B.Med.Sc, Sp.B.Sub.BVE (K) memaparkan bahwa prosedur EVLA diawali dengan pemetaan vena menggunakan ultrasonografi.
Serat laser kemudian dimasukkan ke dalam pembuluh darah bermasalah melalui sayatan kecil.
Energi panas dari laser akan menutup vena secara permanen sehingga aliran darah dialihkan ke pembuluh yang sehat.
“Karena minim trauma jaringan, masa pemulihan relatif lebih cepat dibanding operasi terbuka,” ujarnya.
Para dokter juga mengingatkan bahwa tidak semua pasien cocok menjalani prosedur ini.
Kondisi pembuluh darah, riwayat kesehatan, serta potensi risiko komplikasi harus dipertimbangkan sebelum tindakan dilakukan.
Founder Klinik Indonesia Vein Center, Yuliardy Limengka, menilai pendekatan minimal invasif menjadi arah pengembangan terapi vaskular di berbagai negara karena lebih efisien serta meningkatkan kenyamanan pasien.
Ia menambahkan, varises kerap dianggap sekadar persoalan estetika.
Padahal, dalam sejumlah kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan medis serius jika tidak ditangani dengan tepat.
“Varises bukan hanya masalah kosmetik. Deteksi dini dan penanganan yang sesuai dapat mencegah komplikasi jangka panjang serta meningkatkan kualitas hidup pasien,” tutupnya.
Baca tanpa iklan