News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Semangat Hidup Lubna 4 Kali Operasi Kanker, Tuntaskan Trail Running 9 Jam Lintasi Gunung

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI KANKER NASOFARING - Foto ilustrasi hasil olah kecerdasan buatan (AI), Minggu (14/9/2025), Gambar ini menunjukkan bagian wajah manusia dengan fokus pada hidung dan struktur internal di baliknya, termasuk rongga hidung, mulut, dan area nasofaring. Di sana tampak jelas massa kanker berwarna kemerahan di bagian belakang rongga hidung, yang ditandai dengan label “Nasopharyngeal cancer”.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Siapa sangka, perempuan yang sudah empat kali operasi kanker, lima kali kemoterapi, dan radioterapi ini justru memilih menaklukkan gunung.

Perempuan itu bernama Lubna Hasan Syihab, penyintas kanker nasofaring. Ia yang pertama kali didiagnosis pada 2008 saat usianya baru 27 tahun.

Awalnya, ia hanya ingin mencoba sesuatu yang baru pada 2022. Ia terinspirasi naik gunung, lalu mengenal trail running, lari di bukit dan pegunungan, bukan di aspal.

Ia mulai latihan dengan coach. Pelan-pelan. Konsisten.

Baca juga: Kisah Lubna, Penyintas Kanker Nasofaring yang Penyakitnya Kambuh Lagi Meski Hidup Sehat

Padahal efek pengobatan masih ia rasakan. Pendengarannya berkurang akibat operasi dan radiasi. Suaranya agak sengau. Kadang proses menelan terganggu dan harus dibantu air. Namun ia tak menjadikan itu alasan berhenti.

Yang paling ekstrem? Ia pernah menyelesaikan lomba trail running selama 9 jam 42 menit.

PENYINTAS KANKER - Lubna Hasan Syihab, penyintas kanker nasofaring, dalam Lets talk Live dalam Rangka World Cancer Day di akun instagram @rscm.kencana, Rabu (25/2/2026). Ia menceritakan pengalamannya sebagai penderita kanker nasofaring.

“Pas saya menjalani mimisan amat menariknya sebenarnya justru pada saat saya sedih lagu surprise itu pas lari walaupun berat, yang paling berat itu kemarin baru bagus, akhirnya itu 9 jam 42 menit,"ungkapnya dalam Lets talk Live dalam Rangka World Cancer Day di akun instagram @rscm.kencana, Rabu (25/2/2026). 

Sembilan jam lebih di jalur gunung bukan perkara ringan. Pasti lelah. Pasti ada rasa ingin berhenti.

Namun di tengah trek, ia tidak memikirkan rasa sakitnya. Ia memikirkan orang lain.

“Selama trek itu guru saya memikirkan, pasti ada orang yang akan inspirasi dengan langkah saya ini. Pasti ada,"lanjutnya. 

Kalimat itu yang membuatnya terus melangkah.

Lubna sadar dirinya penyintas kanker. Ia tahu banyak orang dengan kondisi serupa mungkin sedang merasa takut bergerak, takut mencoba hal baru, takut tubuhnya tidak mampu.

Karena itu ia memilih berlari bukan sekadar untuk dirinya sendiri.

Ia ingin menunjukkan bahwa penyintas kanker tetap bisa aktif. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini