Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Bagi diabetesi, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus.
- Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak drastis.
- Sampai batas mana diabetesi aman berpuasa?
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan sering jadi momen refleksi, termasuk bagi penyandang diabetes.
Namun satu pertanyaan selalu muncul: sampai batas mana diabetesi aman berpuasa?
Baca juga: Cegah Risiko Hipoglikemia & Hiperglikemia di Bulan Puasa, Diabetesi Bisa Lakukan 4 Tips Ini
Bagi diabetesi, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak drastis.
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Eka Hospital BSD, Prof. dr. Hari Hendarto, Sp. P.D, Subsp. E.M.D. (K), Ph.D, MARS, kunci utamanya adalah kontrol dan persiapan.
“Secara medis, mayoritas penyandang diabetes tipe 2 yang gula darahnya terkontrol dengan baik diperbolehkan berpuasa,"ungkap dr Hari pada keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Namun, tidak semua pasien berada di zona aman.
Kenali Dua Ancaman Utama Saat Puasa
Tantangan terbesar diabetesi saat puasa adalah menjaga gula darah tetap stabil.
Ada dua risiko yang paling sering terjadi:
1. Hipoglikemia
Penurunan gula darah drastis di bawah 70 mg/dL. Gejalanya bisa berupa pusing, gemetar, lemas, bahkan pingsan. Kondisi ini biasanya terjadi di siang hari.
2. Hiperglikemia
Lonjakan gula darah yang tidak terkendali akibat asupan karbohidrat atau gula berlebih saat berbuka.
Dua kondisi ini bisa berbahaya jika tidak diantisipasi dengan baik.
Batas Aman: Kapan Harus Bertahan, Kapan Harus Berhenti?
Puasa tidak boleh memaksakan diri. Batas tegasnya jelas, segera batalkan puasa bila gula darah turun di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL.
Baca tanpa iklan