“Tetap jantung saya harus turun. Iya, tetap jantung. Kalau udah malam itu harus turun,"imbuhnya.
Artinya, malam hari adalah momen alami bagi jantung untuk menurunkan ritme kerjanya.
Begadang Bukan Bagian dari Ibadah
Baca juga: Puasa Sehat, Saatnya Diet! Ini Tips Agar Target Turunkan Berat Badan Saat Ramadan Tak Meleset
Dr Nanda menegaskan, tidak ada alasan menjadikan puasa sebagai pembenaran untuk tidur lebih larut dari biasanya.
“Kita nggak tuh puasa harus tidur lebih lama. Enggak. Tidur kita harus cukup sehari,"lanjutnya.
Ia mencontohkan, jika seseorang tidur pukul 21.00 dan bangun sekitar pukul 03.30 untuk sahur, itu sudah sekitar enam jam. Durasi tersebut dinilai cukup bagi orang dewasa.
Yang sering terjadi justru kebiasaan menunda tidur karena suasana Ramadan terasa lebih “hidup”.
Ada tayangan yang ingin ditonton, obrolan yang diperpanjang, atau aktivitas lain yang membuat waktu istirahat terpangkas.
Padahal, ketika tubuh terus dipaksa aktif tanpa jeda, jantung tidak mendapat fase pemulihan yang optimal.
Jantung Bukan Mesin Tanpa Batas
Dalam penjelasannya, dr Nanda mengibaratkan jantung seperti orang yang terus berlari. Kalau dipacu tanpa henti, tubuh pasti akan kelelahan.
Begitu juga dengan jantung. Ia memang tidak boleh berhenti, tetapi ritmenya harus turun saat malam hari. Jika tidak, kelelahan akan menumpuk.
Karena itu, tidur menjadi faktor yang sangat krusial selama Ramadan.
Puasa bisa menjadi momen terbaik untuk mereset tubuh. Namun reset itu tidak akan maksimal jika di saat yang sama kita justru mengurangi waktu istirahat.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang lebih mindful terhadap tubuh sendiri.
Mendengar sinyal lelah, menghargai kebutuhan tidur, dan menjaga ritme alami jantung.
Sebab menjaga kesehatan jantung saat puasa bukan soal apa yang dimakan saat sahur dan berbuka saja, tetapi juga soal seberapa cukup kita memberi waktu tubuh untuk benar-benar beristirahat.
Baca tanpa iklan