Perdebatan menjadi semakin panas ketika platform X menambahkan "Community Notes" atau konteks pada cuitan viral itu, yang menyatakan bahwa klaim tersebut berpotensi menyesatkan.
"Campaign ini berpotensi menyesatkan. Prinsip dasar toksikologi, semua adalah toksin/racun tergantung dosisnya. Air juga bisa jadi racun dalam jumlah tertentu. Tidak ada indikasi kandungan senyawa metabolit dalam herbal tersebut yang diatas dosis toksik," demikian bunyi catatan komunitas tersebut.
Pendapat ini didukung oleh sebagian netizen lain yang merasa tidak pernah memiliki masalah dengan obat herbal tersebut.
Salah satunya adalah pengguna X dengan akun @Bsuworo.
"Pengalaman saya minum obat herbal masuk angin, apapun mereknya fine-fine (baik-baik) saja. Bahkan bila kena gejala flu, minum obat masuk angin istirahat langsung sembuh," balasnya di kolom komentar.
Lantas, di manakah letak kebenarannya?
Artikel dari media online nasional yang membahas isu ini menjelaskan bahwa eugenol dalam dosis rendah sebenarnya tidak membahayakan.
Beberapa penelitian, seperti yang dimuat di Alodokter, bahkan menyebutkan bahwa minyak cengkeh dapat membantu meningkatkan produksi lendir lambung yang berfungsi sebagai pelindung.
Namun, situs Hello Sehat juga mengingatkan bahwa konsumsi cengkeh berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, terutama bagi penderita maag berat.
Kontroversi eugenol ini menjadi pengingat penting bahwa ‘herbal’ tidak selalu berarti ‘aman’ untuk semua orang.
Bagi sebagian orang, obat herbal instan mungkin menjadi solusi cepat yang efektif.
Namun bagi yang lain, terutama yang memiliki gerd atau sensitivitas pencernaan, kandungan seperti eugenol bisa menjadi pemicu masalah baru.
Karena itu, pelajaran terpenting dari viralnya isu ini bisa jadi pentingnya mendengarkan tubuh sendiri dan tidak ragu untuk berkonsultasi. (*)
Baca tanpa iklan