Menurut dr. Wayan, ada beberapa komplikasi yang paling sering terjadi pada anak dengan campak.
“Komplikasi yang harus kita waspadai dan yang sering terjadi yang pertama adalah radang paru yang kita sebut dengan pneumonia, kemudian yang kedua bisa diare, terus yang ketiga bisa radang telinga tengah, yang terakhir infeksi susunan saraf pusat yang kita sebut dengan encephalitis,” jelasnya.
Komplikasi tersebut dapat terjadi karena virus campak memiliki kemampuan menyebar ke berbagai organ tubuh.
Virus Bisa Menyerang Banyak Organ
Virus campak bersifat sistemik, artinya dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh.
Virus ini dapat berkembang pada jaringan epitel di berbagai organ, mulai dari saluran pernapasan hingga saluran pencernaan.
Akibatnya, infeksi bisa memicu berbagai gejala tambahan seperti batuk berat, diare, hingga gangguan pada sistem saraf.
Jika tidak ditangani dengan baik, komplikasi ini dapat berakibat serius.
Dalam beberapa kasus, komplikasi berat bahkan dapat menyebabkan kecacatan atau kematian.
Kapan Harus Dibawa ke Rumah Sakit?
Tidak semua anak dengan campak harus dirawat di rumah sakit.
Jika demam masih bisa dikontrol dengan obat, anak masih bisa minum dengan baik, dan tidak ada tanda komplikasi, perawatan di rumah masih dapat dilakukan dengan pengawasan orang tua.
Namun ada beberapa kondisi yang menjadi tanda bahaya.
Misalnya demam tinggi yang tidak turun dengan obat, anak terlihat sangat lemas, minum berkurang drastis, atau muncul gejala seperti batuk berat.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Penanganan campak umumnya bersifat suportif, seperti pemberian obat penurun demam, cairan yang cukup, serta vitamin A untuk membantu proses pemulihan.
Namun penanganan yang cepat menjadi kunci untuk mencegah munculnya komplikasi.
Dengan mengenali fase berbahaya campak, orang tua diharapkan bisa lebih waspada dan segera mencari bantuan medis jika kondisi anak memburuk.
Baca tanpa iklan