Meski menjanjikan, penerapan teknologi ini menghadapi tantangan utama yaitu tingkat kesulitan pemeriksaan yang tinggi, sehingga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih secara khusus.
Untuk mengatasi hal ini, pihak Korea Selagan berencana mengadakan program pelatihan bagi tenaga medis di Indonesia selama 6 bulan hingga 1 tahun.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi faktor penting. Banyak orang masih ragu atau takut melakukan pemeriksaan kanker. Padahal, deteksi dini justru menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan.
Nota kesepahaman (MoU) ini mencakup pengembangan layanan diagnostik lanjutan, pertukaran ilmu dan teknologi medis, serta penelitian bersama untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan.
Penandatanganan dihadiri sejumlah tokoh dari kedua negara, termasuk Duta Besar Korea untuk Indonesia, Kwon Deok-cheol, jajaran Hanaro Medical Foundation, serta perwakilan organisasi bisnis seperti KOCHAM dan KOSA.
Baca tanpa iklan