News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ancaman Hantavirus

Bukan Lockdown, Epidemiolog Sarankan Strategi Ini Agar Indonesia Siap Hadapi Virus Hanta 

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) disebarkan oleh tikus, dan sangat jarang dari orang ke orang

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:

  • Virus Hanta (Hantavirus) jadi perhatian.
  • Virus ini dikabarkan mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026.
  • Siapkah Indonesia hadapi ini? Ini strategi yang ditawarkan epidemiolog.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Virus Hanta (Hantavirus) jadi perhatian usai terjadinya wabah mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026.

Hingga 5 Mei 2026, dilaporkan 3 orang meninggal dunia. Walau demikian, secara global, WHO menilai risiko penyebaran ke masyarakat umum masih tergolong rendah.

Baca juga: Panduan WHO untuk Hadapi Ancaman Hantavirus Setelah Penyebaran di Kapal Pesiar

Di tengah kekhawatiran virus Hanta ini, langkah konkret perlu menjadi kunci utama.

Epidemiolog Dicky Budiman menegaskan bahwa respons Indonesia harus fokus pada deteksi dini dan pengendalian lingkungan.

KAPAL MV HONDIUS. Tiga penumpang tewas di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan hantavirus, WHO selidiki wabah langka di tengah laut. (cruisemapper)

Langkah pertama adalah memperketat pengawasan di pelabuhan dan bandara.

“Dan yang harus dilakukan tentu adalah pelabuhan ini harus meningkatkan yang disebut Port Health Strengthening,"ungkapnya pada Tribunnews, Rabu (6/5/2026). 

Port Health Strengthening (Penguatan Kesehatan Pelabuhan) adalah upaya peningkatan kapasitas, fungsi, dan pelayanan di pelabuhan atau titik masuk negara (Points of Entry). 

Upaya ini untuk mencegah dan merespons penyebaran penyakit menular internasional
Port Health Strengthening mencakup:

  • 1. Screening pelaku perjalanan
  • 2. Identifikasi riwayat perjalanan
  • 3. Pemantauan gejala

Isolasi dan Rujukan Cepat

Jika ditemukan kasus suspek, penanganan harus cepat dan tepat.

“Jadi isolasi kasus suspeknya. Tersangka suspek ini harus diisolasi segera dengan gejala-gejala tadi,"imbuhnya. 

Pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas ICU untuk penanganan lanjutan.


Jangan Salah Diagnosis

Salah satu tantangan terbesar adalah kemiripan gejala dengan penyakit lain.

“Karena bisa jadi itu leptospirosis, dengue, atau pneumonia berat,"lanjutnya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini