Menurut dr. Widyorini, metode skrining kanker serviks di Indonesia saat ini meliputi Pap smear, IVA, dan tes HPV DNA.
“Pada tes Pap smear, sensitivitasnya hanya sekitar 60 persen, terkadang dapat terjadi false negative, membutuhkan infrastruktur kompleks, serta kurang akurat pada perempuan pascamenopause,” jelasnya.
Sementara pada pemeriksaan IVA, prosedur dan alat yang digunakan lebih sederhana. Namun, tenaga kesehatan tetap membutuhkan pelatihan berulang agar mampu melakukan pemeriksaan secara optimal.
Ke depan, skrining kanker serviks di Indonesia diarahkan menggunakan pemeriksaan HPV DNA. Pemeriksaan tersebut diharapkan nantinya dapat dilakukan hingga tingkat Puskesmas setelah proses validasi alat sesuai standar WHO selesai dilakukan.
“Prinsip tatalaksana jika hasil skrining abnormal: make it simple, dan pastikan lihat visual serviks,” tegas dr. Widyorini.
Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady mengatakan, Siloam Oncology Summit memperkuat kualitas layanan kanker di Indonesia dan kolaborasi internasional melalui kehadiran pembicara dari berbagai negara dan kemitraan strategis dengan institusi dunia, termasuk The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD Anderson).
Baca tanpa iklan