Ringkasan Berita:
- Doa ketika mendengar petir dibaca untuk memohon perlindungan Allah SWT dari keburukan yang dibawa petir.
- Petir juga dapat menjadi pertanda datangnya berkah, yaitu hujan yang diturunkan oleh Allah SWT.
- Petir disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran dan menjadi pelajaran bagi manusia.
TRIBUNNEWS.COM - Petir merupakan ciptaan Allah SWT yang dapat membawa berkah dan peringatan.
Ketika mendengar petir, muslim dianjurkan untuk berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis.
"Apabila kalian mendengar petir atau guntur, ucapkanlah: Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah, hanya kepada-Nya kami berserah diri." (HR Muslim)
Di dalam Al-Quran, dijelaskan bahwa petir dapat menjadi pertanda datangnya hujan yang merupakan berkah dari Allah SWT.
“Dialah yang memperlihatkan kepadamu kilat (untuk menimbulkan) ketakutan dan harapan (akan turun hujan) serta menjadikan awan yang berat (mendung)." (QS. Ar-Ra'd: 12)
Dikutip dari laman Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan (MuftiNS) Malaysia, berikut doa ketika mendengar petir.
Doa Ketika Mendengar Petir
سُبْحانَ الَّذي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ
Subhaanal ladzii yusabbihur ra'du bihamdihii wal malaa-ikatu min khiifatih.
Artinya: "Mahasuci Allah, Yang petir bertasbih dengan memuji kepada-Nya, dan para malaikat takut kepada-Nya." (HR Bukhari)
Baca juga: Doa agar Hujan Reda, Membawa Berkah dan Tidak Menimbulkan Musibah
اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَيْهِ نَسْتَعِينُ
Allahu Akbar, la ilaha illa Allah, ilayhi nasta‘in
Artinya: “Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah, hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan.” (HR. Muslim)
Dalil Tentang Petir di Al-Quran
Petir disebutkan beberapa kali di dalam Al-Quran, sebagaimana dijelaskan dalam skripsi Petir Dalam Perspektif Al-Quran dan Relevansinya Terhadap Ilmu Pengetahuan Alam oleh Hasan Fadli Hasibuan, mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta, 2022.
1. QS. Al-Baqarah: 19
“Atau, seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai berbagai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya (untuk menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 19)
Ayat ini menggambarkan keadaan orang-orang munafik yang hatinya dipenuhi ketakutan dan kebimbangan.
Petir dan kilat menjadi perumpamaan bagi ancaman dan kebenaran dari Allah yang sebenarnya mereka takutkan, bukan imani.
Dalam asbabun nuzul yang diriwayatkan At-Thabari, ayat ini berkaitan dengan dua orang munafik yang lari dari Rasulullah Saw.
Ketika diterpa hujan disertai petir dan kilat, mereka ketakutan dan kebingungan.
Setelah pagi menjelang mereka menghadap beliau, menyatakan masuk Islam, dan membaiat Rasulullah Saw, serta mendekatkan diri mereka kepada Allah.
2. QS. Al-Baqarah: 20
“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan dibawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 20)
Ayat ini melanjutkan perumpamaan sebelumnya. Kilat melambangkan cahaya petunjuk Allah, sementara gelap melambangkan kebingungan dan kesesatan. Orang munafik hanya mau mengikuti kebenaran jika menguntungkan mereka.
Allah menegaskan bahwa Dia Mahakuasa atas segalanya, termasuk pendengaran dan penglihatan manusia. Ini menjadi peringatan bahwa kemampuan memahami kebenaran adalah karunia Allah yang bisa dicabut kapan saja.
3. QS. Ar-Ra'd: 12
“Dialah yang memperlihatkan kepadamu kilat (untuk menimbulkan) ketakutan dan harapan (akan turun hujan) serta menjadikan awan yang berat (mendung)." (QS. Ar-Ra'd: 12)
Ayat ini menunjukkan bahwa kilat adalah tanda kekuasaan Allah SWT yang memiliki dua sisi yaitu menimbulkan rasa takut dan sekaligus harapan. Takut karena potensi bahaya, dan harapan karena hujan membawa kehidupan.
Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika seorang penguasa sombong menolak dakwah Rasulullah Saw. Lalu Allah SWT memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui awan, guruh, dan petir sebagai peringatan.
4. QS. Ar-Ra'd: 13
“Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya." (QS. Ar-Ra'd: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa alam semesta, termasuk guruh, tunduk dan bertasbih kepada Allah. Petir bukan sekadar fenomena alam, tetapi bagian dari kehendak dan kekuasaan-Nya.
Sementara manusia masih membantah dan meragukan kekuasaan Allah, petir menjadi bukti nyata bahwa Allah mampu memberi peringatan atau azab kapan saja kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
5. QS. Al-Baqarah: 55
“(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikannya." (QS. Al-Baqarah: 55)
Ayat ini menceritakan sikap Bani Israil yang sombong dan melampaui batas dengan meminta melihat Allah secara langsung. Permintaan itu bukan lahir dari iman, tetapi dari pembangkangan.
Sebagai akibatnya, Allah menurunkan petir sebagai teguran keras agar mereka menyadari keterbatasan manusia di hadapan kebesaran-Nya.
6. QS. An-Nisā': 153
“Meminta kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sungguh, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar daripada itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata”. Maka, petir menyambar mereka karena kezalimannya. Kemudian, mereka menjadikan anak sapi (sebagai sembahan), (padahal) telah datang kepada mereka bukti-bukti (ketauhidan) yang nyata, lalu Kami memaafkan yang demikian itu. Kami telah menganugerahkan kepada Musa kekuasaan yang nyata”. (QS. An-Nisā': 153)
Ayat ini menegaskan bahwa sikap membangkang kaum terdahulu kembali terulang pada masa Nabi Muhammad saw. Permintaan mukjizat yang berlebihan lahir dari kedurhakaan, bukan keimanan.
Petir yang menyambar mereka menjadi bentuk hukuman atas kezaliman dan kesombongan, meski setelah itu Allah tetap membuka pintu ampunan.
7. QS. Fuṣṣilat: 13
“Jika mereka berpaling, katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu (azab berupa) petir seperti petir yang menimpa (kaum) 'Ad dan (kaum) Samud." (QS. Fuṣṣilat: 13)
Ayat ini adalah peringatan keras kepada kaum musyrik yang menolak dakwah Rasulullah saw. Petir disebut sebagai simbol azab yang pernah menimpa umat terdahulu.
Hal ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran memiliki konsekuensi serius, sebagaimana yang dialami kaum ‘Ad dan Tsamud.
8. QS. Fuṣṣilat: 17
“Adapun (kaum) Samud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu. Maka, mereka disambar petir sebagai azab yang menghinakan karena apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Fuṣṣilat: 17)
Ayat ini menjelaskan bahwa petir menjadi hukuman bagi kaum Tsamud karena mereka dengan sadar menolak petunjuk Allah.
Azab tersebut bersifat menghinakan, sebagai balasan atas kesombongan dan pembangkangan mereka terhadap perintah Tuhan.
9. QS. AzZāriyāt: 44
“Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya)”. (QS. AzZāriyāt: 44)
Ayat ini kembali menegaskan bahwa kesombongan terhadap perintah Allah berujung pada kebinasaan. Petir datang secara tiba-tiba dan disaksikan langsung oleh kaum yang durhaka.
Ayat tersebut menjadi pelajaran bahwa azab Allah bisa datang tanpa diduga, ketika manusia merasa paling kuat dan aman.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan