Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi Soeharto, tetapi kemampuan bangsa ini untuk membedakan antara ingatan dan propaganda, antara pengetahuan dan legitimasi. Jika sejarah kini ditulis ulang oleh statistik, maka tugas kita bukan membantah angkanya, melainkan membongkar narasi yang disembunyikan di baliknya.
Di sinilah tampak bagaimana kekuasaan simbolik bekerja. Seperti yang dikatakan Pierre Bourdieu, "Symbolic power is a power of creating things with words.”
Dalam politik modern, kata 'data', 'survei', dan 'pahlawan' bukan sekadar deskripsi, melainkan penciptaan makna yang mengatur cara kita mengingat dan melupakan.
Baca tanpa iklan