Ia pun berupaya untuk menggugurkan janin dalam kandungan putrinya.
Di awal kehamilan RH, Neneng membelikan nanas muda untuk putrinya. Namun, ternyata kandungan RH tetap kuat.
Saat kandungan RH memasuki tujuh bulan, Neneng menyuruh perempuan berinisial N (55) untuk membeli obat penggugur kandungan dan memberikan uang senilai Rp 2 juta.
"Obat itu dibeli di Pasar Pramuka, Jakarta Timur," ungkap Nicolas, melansir Kompas.com.
Setelah obat penggugur kandungan itu dikantongi N, NKD langsung menyuruh putrinya untuk mengonsumsi.
Ternyata, obat itu langsung bereaksi ke tubuh RH.
RH kemudian mengeluarkan janinnya di rumah tanpa bantuan tenaga medis.
"Pada 16 April 2024 sekira pukul 03.00 WIB, HR melahirkan. Lalu tersangka NKD dan anak HR membawa bayi ke Puskesmas untuk memotong ari-ari," jelas Nicolas.
Setibanya di Puskesmas, kondisi bayi laki-laki yang dilahirkan RH memburuk, sehingga tim dokter merujuk korban ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit.
Namun, bayi laki-laki tersebut menghembuskan napas terakhirnya saat tengah dalam perawatan medis.
Kondisi korban yang memprihatinkan saat dibawa ke RSKD Duren Sawit membuat tim medis curiga.
Mereka kemudian menghubungi Polsek Duren Sawit dan Unit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur.
Dari hasil penyidikan, jajaran Unit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur lalu mengamankan NKD, HR, dan N dengan barang bukti sejumlah obat-obatan penggugur kandungan.
Saat ini, polisi tengah mencari penjual obat aborsi yang dibeli N di Pasar Pramuka.