TRIBUNNEWS.COM - Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2026 terpilih, Yatalathof Ma’shum Imawan dan Fathimah Azzahra, mengaku menerima teror pembunuhan dari orang tidak dikenal.
Teror tersebut datang kurang dari 24 jam setelah Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (Pemira) UI rampung digelar pada Selasa 13 Januari 2026.
Baca juga: Teror Buaya Raksasa Meresahkan! Muncul di Jakarta Utara hingga Nelayan di Bintan Tewas Diterkam
Kronologi Teror terhadap Pimpinan Baru BEM UI
Ancaman pertama kali diterima melalui pesan WhatsApp pada Rabu (14/1/2026), sehari setelah Pemira UI yang digelar pada Selasa malam dan dimenangkan pasangan Yatalathof–Fathimah.
Yatalathof mengungkapkan, pelaku mengirim pesan berisi ancaman pembunuhan sekaligus tuntutan agar dirinya mengundurkan diri dari jabatan Ketua BEM UI 2026.
Tidak hanya itu, pelaku juga berupaya meretas akun WhatsApp miliknya dan beberapa anggota keluarganya.
“Terus kemudian dari kakakku sendiri juga kena (retas), langsung mengirim ke berbagai grup, kurang lebih isinya terkait ancaman dan foto-foto propaganda untuk mundur, ancam pembunuhan,” kata Yatalathof, Minggu (18/1/2026).
Teror serupa juga dialami Fathimah Azzahra selaku Wakil Ketua BEM UI 2026 terpilih. Ia menerima kiriman paket misterius yang tidak pernah dipesan dengan sistem bayar di tempat (cash on delivery/COD).
Paket tersebut berisi berbagai barang bernuansa intimidatif, seperti gunting taman, kursi roda, kain kafan, senjata tajam, hingga topeng horor, dengan total nilai tagihan mencapai Rp1,8 juta.
Tak berhenti di situ, pelaku juga menyebarkan foto-foto propaganda, ilustrasi horor, serta video ancaman ke berbagai grup WhatsApp, mulai dari grup keluarga, lingkungan RT/RW, hingga rekan kerja orang tua korban.
Video tersebut menampilkan visual ancaman pembunuhan dengan menjadikan foto korban sebagai target.
Merasa terancam, Yatalathof dan Fathimah melaporkan peristiwa tersebut ke Unit Pelaksana Teknis Pengamanan Lingkungan Kampus (UPT PLK) UI.
Pihak kampus pun memberikan pengamanan berupa pengawalan saat aktivitas tertentu serta koordinasi lintas unit, termasuk dengan dekanat dan bidang kemahasiswaan.
“Kalau dari kita tuh sebenarnya justru bingung, ini kenapa. Ini kan jelas merugikan kita,” ujar Fathimah.
“Kami juga enggak bisa menebak-nebak ini dari siapa,” sambungnya.
Fathimah menilai, teror pembunuhan dalam dinamika Pemira UI merupakan hal yang baru pertama kali terjadi dan sangat meresahkan.
Baca juga: Iqbal Damanik Ungkit Teror ke Aktivis di Aksi Kamisan Depan Istana, Peserta Bunyikan Mainan Ayam
Baca tanpa iklan