Ia memutuskan berhenti berjualan karena masih truma dengan aksi penganiayaan aparat.
“Takut saya ditimpuk lagi, dikeroyok, takut entar saya mati,” tuturnya.
Selama tiga hari Suderajat tidak mendapat pengahasilan.
Tak hanya trauma, kotak yang digunakan untuk membawa es gabus juga rusak akibat penganiayaan.
“Boksnya masih ada, tapi rusak seretannya, rusak karena kejadian kemarin, saya ganjal pakai sedotan,” sambungnya.
Baca juga: Legislator PKB: Oknum Bhabinkamtibmas yang Fitnah Penjual Es Gabus Tak Cukup Hanya Minta Maaf
3. Es Gabus Diproduksi di Depok
Ia menerangkan es gabus diproduksi di sebuah pabrik rumahan di Depok, Jawa Barat.
Satu es gabus dibeli seharga Rp500 untuk dijual seharga Rp2.000.
Suderajat berangkat dari rumah menggunakan KRL untuk menjajakan es gabus di wilayah Kemayoran.
Es gabus dibawa menggunakan kotak berukuran besar yang digendong berkeliling sekolah dan pemukiman warga.
“Kalau Kemayoran di SD Kemayoran belakang stasiun, dari jam 7 pagi sampai 12 siang,” katanya.
Pria 49 tahun itu harus mencukupi kebutuhan istri serta lima anaknya.
Dalam sehari Suderajat mendapat penghasilan sekitar Rp200 ribu, belum dipotong setoran kepada bosnya.
Sebagian artikel telah tayang di TribunnewsDepok.com dengan judul Viral Pedagang Es Gabus Asal Bogor Dituduh Pakai Bahan Spons, Mengaku Ditonjok dan Ditendang
(Tribunnews.com/Mohay) (TribunnewsDepok.com/Rifky)
Baca tanpa iklan