TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax membuat pengeluaran bahan bakar sejumlah pengguna kendaraan meningkat signifikan.
Satu diantaranya dirasakan Yosy Aliffakry, pekerja kantoran yang setiap hari menempuh perjalanan pulang-pergi dari Meruya ke Kuningan, Jakarta.
Baca juga: Pertalite Diburu Imbas Pertamax Naik, Pemerintah Diminta Antisipasi Kelangkaan, Antrean Mengular
Yosy mengaku kebutuhan bensinnya kini jauh lebih besar dibanding sebelum harga Pertamax naik.
"Pulang-pergi sehari bisa 30 kilometer," kata Yosy kepada Tribunnews, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pengamat: Masyarakat Bakal Kurangi Mobilitas dan Tunda Beli Mobil Baru
"Total, hitungan harusnya seminggu cukup 50 ribu karena dapat 4,5 liter, sekarang cuma dapat 3 liter," lanjut dia.
Menurut pria 29 tahun ini, kondisi tersebut membuat biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli BBM setiap pekan meningkat cukup besar.
Ia memperkirakan pengeluaran bensinnya kini bertambah hampir setengah dari sebelumnya.
"Jadi seminggu mesti ngisi jadi 80 ribuan. Hampir nambah biaya buat bensin 50 persen," tuturnya.
Yosy tidak memiliki banyak pilihan untuk menghemat pengeluaran BBM seperti beralih ke jenis bahan bakar yang lebih murah misalnya.
Sebab, kendaraan yang digunakan punya spesifikasi mesin yang mengharuskan penggunaan Pertamax.
"Enggak bisa, kompresi mesinnya enggak cocok, paling rendah Pertamax bisanya," ungkap Yosy.
Selain mengeluhkan kenaikan harga, Yosy juga menyoroti waktu pengumuman kebijakan yang dinilai terlalu mendadak.
Ia mengaku sempat menunda mengisi bensin pada malam hari sebelum kenaikan harga berlaku karena mengira masih bisa mengisi keesokan paginya.
Namun saat hendak mengisi BBM keesokan harinya, harga Pertamax sudah mengalami kenaikan.
Baca tanpa iklan