Sementara itu nilai BOPO yang menjadi acuan adanya efisiensi perusahaan tercatat menurun 0,35% sebesar 69,90% (unaudited) dibadningkan tahun sebelumnya sebesar dari 70,15%.
Pada kesempatan ini Dirut IPC juga memaparkan bahwa sepanjang tahun 2019, IPC telah melayani direct call ke 4 benua, inter Asia, Amerika, Eropa, Australia.
Direct call telah mendorong peningkatan nilai ekspor 6,7% sebesar 180,215 juta US$ dibandingkan tahun sebelumnya 168,828 juta US$. Selain itu proyek direct call telah menghemat biaya logistik sebesar 20% atau US$ 300 per kontainer dan menghemat waktu pengiriman barang dari 31 hari menjadi 21 hari.
Bambang Brodjonegoro mengapresiasik capaian yang diraih IPC, baik dari sisi keuangan dan operasional. Menurutnya, capaian tersebut harus terus ditingkatkan sehingga IPC, khususnya Tanjung Priok bisa menjadi pelabuhan penopang utama ekonomi negara, dan menjadi pendorong perekonomian nasional.
"Saya berharap IPC bisa menjadi salah satu pelabuhan hub terbesar di Indonesia, yang bisa mengambil kembali pasar muatan kita yang selama ini dikirim melalui Sinagapura," ujarnya.
"Di tahun 2020 IPC akan bertransformasi dari Terminal Operator menjadi Trade Corridors. Transforming From Infrastructure Player into Ecosystem Player, nantinya IPC akan berperan sebagai Trade Facilitator dan lebih jauh lagi menjadi Trade Acceletator. Dengan konsep ini IPC tidak hanya akan melayani bongkar muat barang tapi juga mendorong perdagangan malalui ekosistem," tutup Elvyn.
Baca tanpa iklan