"Selain itu juga penting hilirisasi untuk naikkan nilai tambah. Semua produk turunan diolah supaya dapat nilai tambah," jelasnya.
Atas hal tersebut, dalam bidang teknologi perbenihan, telah disiapkan berbagai macam varietas unggul baru. Muhammad Syakir, selaku Ketua Umum Peragi menyebutkan saat ini ada 32 varietas unggul batu (VUB) padi dalam kurun waktu 5 tahun untuk lahan rawa, sawah, lahan kering dan kebutuhan khusus serta ekspor. Begitu pula komoditas jagung, gandum dan sorgum telah dilepas 19 varietas unggul baru yang produktivitasnya tinggi dan adaptif di dataran.
"Komoditas kedelai dan umbi juga telah dilepas 29 VUB yang provitasnya tinggi dan toleran terhadap cekaman. Dengan varietas unggul baru itu, dipastikan mampu mendongkrak provitas tanaman pangan," jelasnya.
Food Estate yang akan menjadi icon pilot project ketahanan pangan ini memang sedang dipersiapkan konstruksi lahan oleh Kementerian PUPR. Suria Lubis dari Kementerian PUPR menyatakan mendukung penuh Food Estate ini.
"Saat ini Kementerian PUPR sedang menyiapkan kontruksi lahan di Kalteng dan sistem drainase sedang dibangun," sebut Suria.
Hal yang sama juga disampaikan Dosen FEma IPB Ernan Rustiadi. Ia mengatakan memang ada tantangan pertanian saat ini seperti sebaran produksi yang tidak merata, alih fungsi lahan, serta daya saing dari sisi efisiensi produksi dan logistik.
Menurutnya, agenda ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan sebenarnya sudah dijalankan pemerintah selama ini. Seperti halnya ekstensifikasi, intensifikasi, diversifikasi, efisiensi dan optimasi logistik, reforma agraria dan terakhir yang sedang gencar dilakukan adalah korporasi.
"Food Estate akan menjadi contoh nyata pengembangan korporasi yang terintegrasi. Saya berharap konsep korporasi yang telah diaebutkan Pak Dirjen Tanaman Pangan tadi bisa segera direplikasi di semua wilayah. Karena dengan pendekatan korporasi ini akan memacahkan masalah selama ini soal gap dengan perusahaan," ucap Ernan. (*)