News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gelar Pahlawan Nasional

Mengintip Rumah Cendana: Tempat Soeharto Dulu Berkumpul, Kini Ditinggal Anak-anaknya

Penulis: Abdi Ryanda Shakti
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RUMAH SOEHARTO – Rumah Presiden ke-2 RI, Soeharto, di Jalan Cendana nomor 6-8, Menteng, Jakarta Pusat, tampak sepi dan lapuk saat ia dianugerahi gelar pahlawan nasional, Senin (10/11/2025). Bangunan yang dulu menjadi pusat kekuasaan kini berdiri dalam keheningan, ditinggal anak-anaknya dan hanya dijaga oleh kenangan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Suasana sepi menyelimuti rumah di Jalan Cendana nomor 6 hingga 8, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah yang dulu menjadi tempat berkumpul keluarga Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, kini tampak usang dan termakan waktu.

Di tengah kesenyapan rumah Cendana, Soeharto justru dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam rangka peringatan Hari Pahlawan, Senin, 11 November 2025.

Prabowo adalah mantan suami dari Siti Hediati Hariyadi, yang lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto, putri keempat Soeharto.

Dalam upacara di Istana Negara, keluarga Soeharto diwakili oleh dua anaknya: Bambang Trihatmodjo dan Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto.

Di balik pagar besi yang mulai berkarat, rumah Cendana yang pernah menjadi pusat kekuasaan selama 32 tahun itu kini berdiri dalam keheningan. 

Tak ada lagi riuh keluarga besar, hanya sisa-sisa kenangan yang tertinggal di sudut-sudut bangunan.

Kini Sepi dan Lapuk

Dari tampak depan, pagar setinggi sekitar 1,5 meter memisahkan rumah dari jalan satu arah.

Cat putih pada pagar telah memudar, dan karat mulai menjalar di bagian penguncinya. 

Di balik pagar rumah, pohon-pohon besar masih rimbun, memberi kesan rindang yang kontras dengan suasana sunyi.

Baca juga: Antasari Azhar dan Tangan Besi KPK: Dari OTT Jaksa hingga Jerat Besan Presiden

Rumah bergaya arsitektur lama itu masih mempertahankan warna hijau militer khas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dipadu putih di bagian pilar.

Genting rumah terlihat memudar, beberapa bagian bahkan mulai amblas.

Pos penjagaan di bagian depan dan samping rumah masih berdiri, dengan tembok hijau menyerupai pos militer.

Di teras, patung Kartika Eka Paksi—lambang TNI AD yang menggambarkan kekuatan dan kesetiaan—masih terpajang. Namun, plafon rumah banyak yang lapuk dan berlubang.

Di salah satu sudut, terlihat sarang burung di dekat palaron. Beberapa kendaraan roda dua dan empat masih terparkir, milik para penjaga dan pengurus rumah.

Sosok Penjaga Setia di Tengah Kenangan

Di tengah sunyi rumah tua itu, Slamet berdiri sebagai penjaga yang masih setia. Pria sepuh berbaju batik itu menyambut Tribunnews dengan senyum tipis. Ia telah lama menjaga rumah tersebut.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini