Ringkasan Berita:
- ASN ditantang keluar dari zona nyaman, coaching digadang jadi budaya belajar baru.
- Coaching dipandang sebagai kunci lahirnya pemimpin birokrasi adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
- Publik menanti bukti nyata, apakah coaching mampu ubah wajah pelayanan publik Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq menegaskan coaching atau pendampingan pembelajaran sebagai budaya belajar baru bagi aparatur sipil negara (ASN). Coaching dipandang sebagai instrumen yang mendorong ASN menjadi penggerak perubahan (changemaker) pelayanan publik di tengah tuntutan birokrasi modern.
Sebagai langkah penguatan ekosistem pembelajaran ASN, LAN mengambil bagian dalam Indonesia’s International Coaching Summit (IICS) 2025 yang diselenggarakan oleh International Coaching Federation (ICF) Jakarta Charter Chapter. Keterlibatan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara LAN dan ICF di Graha Makarti Bhakti Nagari, ASN Corporate University, Pejompongan, Jakarta, pada 22 November 2025.
Taufiq menekankan coaching sebagai elemen penting dalam pembentukan karakter kepemimpinan ASN yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
“Integrated Learning–Corporate University hadir untuk mendorong ASN membuka potensi terbaiknya, menjadi changemaker sekaligus future-ready leader. Inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan penting untuk membawa perubahan nyata bagi pelayanan publik,” ujar Taufiq dalam talkshow bertema Coaching Forward: Empowering Minds, Elevating Futures, dikutip Rabu (26/11/2025).
Dalam konteks pengembangan talenta ASN, Taufiq menegaskan bahwa peran coach bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menjadi mitra yang membantu membuka potensi tertinggi setiap individu. Coaching, lanjutnya, menumbuhkan pola pikir kepemimpinan yang berorientasi pada kreativitas, kolaborasi, inovasi, dan pemecahan masalah.
Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN, Tri Widodo Wahyu Utomo, menambahkan bahwa coaching kini menjadi kebutuhan mendesak di sektor publik.
“Peningkatan produktivitas tidak mungkin tercapai tanpa proses transformasi. Coaching dipandang sebagai instrumen yang mampu mendorong perubahan serta menguatkan kapasitas individu dan organisasi dalam menghadapi tantangan pelayanan publik,” kata Tri dalam sesi Coaching for Productivity.
Baca juga: Banjir dan Longsor Sumut: Ribuan Rumah Hancur, Santunan Korban Mulai Disiapkan
Indonesia’s International Coaching Summit 2025 menghadirkan tiga alur utama: Artificial Intelligence, Wellbeing, dan Productivity, yang menekankan coaching sebagai pendekatan lintas sektor untuk membangun kepemimpinan berkelanjutan. Kehadiran perwakilan korporasi, instansi pemerintah, akademisi, dan organisasi memperlihatkan bahwa coaching bukan hanya jargon birokrasi, tetapi bagian dari tren global yang relevan di Asia.
Menurut data Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM, coaching dan mentoring sudah diakui dalam regulasi pengembangan kompetensi ASN, dengan kewajiban minimal 20 jam pelatihan per tahun. Hal ini menegaskan bahwa coaching memiliki landasan kebijakan, bukan sekadar inisiatif LAN.
Meski coaching dipandang sebagai instrumen transformasi, penerapannya di birokrasi menghadapi tantangan: budaya hierarkis yang masih kuat, kesiapan sumber daya manusia yang beragam, serta konsistensi kebijakan agar coaching tidak berhenti di level wacana. Akademisi yang hadir dalam summit menekankan perlunya integrasi coaching dengan reformasi birokrasi agar dampaknya benar-benar terasa di pelayanan publik.
Publik menanti bukti nyata, apakah coaching mampu menjadikan ASN penggerak perubahan yang membuat pelayanan publik lebih responsif dan berdampak bagi semua.
Baca tanpa iklan