Dani menjelaskan, IMIP juga mengutamakan penyerapan tenaga pengajar lokal, khususnya dari wilayah Sulawesi Tengah. Pada tahun-tahun awal, mereka memang mendatangkan tenaga pengajar dari luar seperti Jawa. Namun, sekarang fokus pihaknya adalah mengembangkan potensi guru lokal.
"Selanjutnya kami inisiasi dari wilayah Sulawesi Tengah ataupun Sulawesi itu sendiri untuk penyerapan tenaga pengajarnya," ujar Dani.
Adapun pihak IMIP juga menggandeng sejumlah perusahaan di dalam kawasan untuk berkolaborasi dalam program pendidikan. Beberapa perusahaan disebut ikut menyumbang pembangunan SMP IMIP.
"Jadi kalau kami kan memang kolektif ya. Ada beberapa perusahaan di dalam itu kami ajak berkolaborasi untuk program CSR-nya kayak di SMP IMIP itu tercantum beberapa logo-logo perusahaan [di dinding gedung sekolah]," ucap Dani.
Selain itu, mereka juga terlibat dalam kelas inspiratif, misalnya seperti menyediakan tenaga pengajar bahasa Mandarin atau fotografi.
Antusiasme masyarakat terhadap program pendidikan ini pun disebut sangat tinggi. Dani mengungkap masyarakat sangat menginginkan IMIP membangun lagi sekolah yang lebih besar.
"Masyarakat itu sebenarnya sangat antusias dengan adanya sekolah-sekolah yang kami bikin. Sebenarnya kami bikin itu juga untuk memfasilitasi masyarakat dan masyarakat memang menginginkan adanya penambahan," ucap Dani.
"Kami pun meresponnya untuk saat ini memang kami bangun bertahap. Jadi, enggak bisa langsung kami bangun semuanya, tapi harus ada tahapannya," pungkasnya.
Baca juga: IMIP Bekali Anak-anak di Morowali Belajar Bahasa Mandarin Gratis
Baca tanpa iklan