Ilhamsyah secara terang-terangan mengkritik sistem pengelolaan organisasi di internal Partai Golkar yang dinilainya tidak sehat dan didorong oleh kepentingan pribadi.
Menurut Ilhamsyah, ada skenario atau framing yang sengaja dibangun untuk melengserkan Musa Rajekshah (Ijeck) dari kursi Ketua DPD Golkar Sumut, meskipun Ijeck telah menorehkan prestasi besar bagi partai.
"Kondisi ini saya lihat di Sumut, sengaja ada yang mem-framing agar Ketua Ijeck disingkirkan dengan segala cara. Ada yang tidak baik di organisasi Golkar ini jika bicara masalah kehendak," ungkap Ilhamsyah, Kamis (18/12/2025).
Ilhamsyah membeberkan bahwa pihak DPD Golkar Sumut sebenarnya telah berupaya menjalankan mekanisme organisasi secara benar.
Mereka telah dua kali mengirimkan surat kepada DPP Golkar terkait jadwal pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) yang seharusnya digelar sejak Juni 2025. Namun, aspirasi tersebut tidak pernah mendapatkan respons dari pusat.
"Kecurigaan itu sudah ada dari awal. Kenapa tidak diakomodir? Berarti ada yang 'bermain' di sini. Ini bukan bagian dari berdemokrasi, tapi pengebirian atas prestasi yang ditorehkan oleh seorang Ketua DPD," tegasnya.
Penunjukan Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai Plt Ketua DPD Golkar Sumut menjadi titik puncak yang membuat Ilhamsyah memilih meletakkan jabatannya.
Ia menilai pengelolaan organisasi saat ini lebih menonjolkan kemauan pribadi daripada aturan partai.
"Dasar itulah saya mengundurkan diri. Karena ada hal yang tidak baik dalam mengelola organisasi dengan kemauan-kemauan pribadi," kata Ilhamsyah.
Di akhir pernyataannya, ia menitipkan pesan kepada seluruh kader Golkar di tingkat Kabupaten/Kota agar tetap bersikap kritis terhadap situasi ini.
"Saya serahkan kepada kader Golkar yang punya hati nurani terhadap demokrasi. Pakailah hati nurani," tutupnya.
Baca tanpa iklan