Hingga kini, polemik tersebut belum menemukan solusi bagi kedua belah pihak. Rais Aam KH Miftachul Akhyar menegaskan kepemimpinan PBNU berada di tangan Syuriyah dan muktamar segera digelar sebagai jalan keluar. Sementara Gus Yahya menegaskan dirinya tetap sah sebagai Ketua Umum PBNU dan menyerukan islah (rekonsiliasi) agar konflik tidak memperdalam perpecahan.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai konflik internal PBNU berpotensi meruncing antar faksi dan merembet ke akar rumput NU, sehingga dapat mengganggu stabilitas politik nasional.
“Akar rumput NU dapat terbelah sesuai faksi-faksi yang berseteru. Kalau akar rumput ikut terlibat dalam konflik, maka ketegangan di NU akan semakin meningkat. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan,” ujarnya kepada Tribunnews.com, Sabtu (29/11/2025).
Ia menekankan pentingnya semua pihak menahan diri dan menyelesaikan masalah melalui mekanisme internal agar friksi tidak meluas ke eksternal organisasi.
Baca tanpa iklan