TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Epidemiolog Dicky Budiman mengimbau masyarakat untuk waspada dengan penyebaran super flu di Indonesia.
Super flu merupakan penyakit flu yang diakibatkan virus influenza subclade K.
Varian ini diketahui menyebabkan lonjakan kasus di Amerika Serikat hingga Inggris.
Secara global, subclade K dari influenza A H3N2 telah menginfeksi jutaan orang dengan ratusan ribu kasus berat.
Meski angka kematian tidak melonjak signifikan, kelompok rentan tetap menjadi perhatian utama.
Kelompok Lansia, terutama usia di atas 65 tahun, anak kecil, bayi, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes dan gangguan jantung, berisiko mengalami kondisi yang jauh lebih serius.
Baca juga: Mengapa Disebut Flu Super? Asal-usul Istilah dan Karakter Virus
“Namun pada kelompok berisiko tinggi seperti lansia (usia ) di atas 65 itu bisa parah ya, angka kematiannya bisa jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lain,” ungkap Epidemiolog sekaligus Pakar Kesehatan Global Dicky Budiman dalam keterangannya, Rabu (31/12/2025).
Selain tingkat keparahan, durasi perawatan juga menjadi persoalan.
Pasien dari kelompok rentan lebih sering membutuhkan rawat inap lebih lama dibandingkan flu musiman biasa.
Saat ini kasus Super Flu sudah ditemukan di Indonesia.
Baca juga: Anak Flu Tak Selalu Butuh Obat, Ini Panduan Aman Kapan Cukup Dirawat di Rumah
Dicky mengungkap sejumlah faktor bisa menimbulkan super flu menjadi wabah di Indonesia.
Tentunya hal itu harus membuat masyarakat waspada.
Rendahnya Literasi dan Vaksinasi
Satu kekhawatiran utama di Indonesia adalah rendahnya literasi dan vaksinasi influenza.
Minimnya cakupan vaksin menyebabkan kekebalan komunal belum terbentuk optimal, sehingga virus lebih mudah bersirkulasi.
“Apalagi kalau di Indonesia ini masih literasi vaksin influenza masih kurang sekali dan ini yang menyebabkan akhirnya kekebalan komunalnya kurang,” ucap Dicky.
Baca tanpa iklan