Polarisasi sebagai Mesin Kebijakan Sehat Senada dengan pandangan lainnya, Associate Professor dari Program Inter-Religious Studies (IRS), Dicky Sofjan, melihat perbedaan pendapat ini bukan sebagai ancaman, melainkan kebutuhan dalam demokrasi.
Menurutnya, polarisasi argumen antara pihak yang pro dan kontra justru penting untuk menghasilkan kebijakan yang lebih matang dan memenuhi standar kemaslahatan umat.
“Keterbelahan ini memicu munculnya solusi-solusi kritis yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan,” pungkasnya.
Diskusi yang dipandu oleh Reza Aji Pratama dari Redaksi Katadata ini juga menghadirkan perspektif kritis dari Country Director Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak dan Direktur Riset PPIM UIN Jakarta Iim Halimatusa’diyah.
Baca tanpa iklan