TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Suara denting lift di apartemen The Sultan siang itu, Selasa (3/2/2026), terdengar lebih nyaring dari biasanya. Bukan karena volumenya yang bertambah, melainkan karena ia memecah keheningan yang nyaris absolut.
Di luar sana, hiruk-pikuk Senayan tetap menderu, namun di dalam pilar-pilar beton ini, waktu seolah sedang menahan napas.
Beberapa resepsionis masih sibuk melayani tamu, sekuriti berjaga, dan sesekali terlihat pengunjung duduk di lounge.
Namun, semakin jauh melangkah, suasana sepi semakin nyata.
Koridor panjang menghubungkan lobi dengan aula megah seperti Golden Ballroom dan Kudus Hall.
Restoran Taman Sari masih berdiri anggun di sisi kiri, menyajikan aroma rempah yang menjadi ciri khas.
Tetapi di luar ruang-ruang acara, kehidupan seakan berhenti.
Saat melangkah keluar meninggalkan lobi yang lengang dengan aroma rempah cengkih yang tertinggal di meja-meja kayu ukir, sulit untuk tidak merasakan kesedihan yang merayap.
Ada fasilitas olahraga di antaranya tujuh lapangan tenis, satu lapangan basket, dan sebuah pusat kebugaran berisi alat-alat gym lengkap.
Ada pula beberapa fasilitas rekreasi seperti kolam renang dan taman bermain anak.
Di balik hotel, dua menara apartemen menjulang.
Dari luar, keramik dindingnya tampak kusam, beberapa jendela terbuka tanpa penghuni.
Saat pintu lift terbuka di lantai tertinggi yang bisa dijangkau tanpa kartu akses, pemandangan yang menyambut bukanlah kemewahan khas hunian kelas atas Jakarta.
Sebaliknya, debu tebal menyelimuti lantai marmer, merekam setiap jejak sepatu dengan presisi yang mengerikan.
Di sudut lorong, sebuah papan informasi tampak bingung dengan dirinya sendiri; tombol lift menunjukkan lantai 29, namun papan di dinding bersikukuh ini adalah lantai 15.
Baca tanpa iklan