Cahaya lampion dipercaya membawa pesan dan harapan menuju langit.
Seiring waktu, Cap Go Meh berkembang menjadi ajang kebersamaan keluarga dengan menyantap hidangan khas seperti tangyuan, menyaksikan pertunjukan barongsai, tarian naga, serta berbagai atraksi budaya lainnya.
Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh memiliki warna lokal yang kuat.
Di Singkawang, misalnya, Cap Go Meh identik dengan atraksi tatung yang menjadi daya tarik wisata nasional.
Sementara di Pontianak dan Jakarta, perayaan ini dimeriahkan dengan pawai budaya dan pertunjukan seni tradisional.
Cap Go Meh pun menjadi simbol akulturasi budaya dan keberagaman di Indonesia.
2. World Wildlife Day (Hari Margasatwa Sedunia)
Selain perayaan budaya, 3 Maret juga diperingati sebagai World Wildlife Day atau Hari Margasatwa Sedunia.
Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 20 Desember 2013, dikutip dari laman resmi United Nations.
Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati diadopsinya Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES) pada 3 Maret 1973.
Konvensi ini berperan penting dalam mengatur perdagangan internasional agar tidak mengancam kelangsungan hidup spesies liar.
Dengan lebih dari 180 negara anggota, CITES menjadi instrumen global yang kuat dalam perlindungan keanekaragaman hayati.
Setiap tahunnya, World Wildlife Day mengusung tema berbeda untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga satwa dan tumbuhan liar dari ancaman kepunahan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat.
Momentum ini mengingatkan dunia bahwa kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat.
3. World Hearing Day (Hari Pendengaran Sedunia)
Tanggal 3 Maret juga diperingati sebagai World Hearing Day atau Hari Pendengaran Sedunia.
Kampanye tahunan ini diprakarsai oleh World Health Organization (WHO) untuk meningkatkan kesadaran global tentang pencegahan gangguan pendengaran dan pentingnya perawatan kesehatan telinga.
Baca tanpa iklan