News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Profil dan Sosok

Profil Prof Ikrar Nusa Bhakti, Debat hingga Dapat Perkataan Kasar dari Permadi Arya Alias Abu Janda

Penulis: garudea prabawati
Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DEBAT TELEVISI - Pakar Politik Ikrar Nusa Bhakti seusai menghadiri acara Riungan Pegiat Demokrasi Barisan Oposisi Indonesia, di Matraman, Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026). Profil Prof Ikrar Nusa Bhakti. Eks Dubes RI untuk Tunisia yang debat hingga dapat perkataan kasar dari Permadi Arya alias Abu Janda. Tribunnews Reza Deni

 

TRIBUNNEWS.COM - Nama Prof Ikrar Nusa Bhakti menjadi perhatian publik setelah terlibat perdebatan dengan Permadi Arya atau Abu Janda dalam program televisi.

Perdebatan tersebut memanas dan berujung pada ucapan kasar yang dilontarkan Abu Janda kepada Prof Ikrar saat diskusi berlangsung.

Perdebatan pun sempat memanas dengan saling balas pernyataan antara keduanya.

Hingga akhirnya muncul perkataan kasar Abu Janda kepada Prof Ikrar.

“Gua nggak ada urusan sama perasaan Elu A***ng”!!

Insiden itu juga mendapat sorotan dari ahli hukum tata negara Feri Amsari.

Melalui akun Threads miliknya, Feri menilai gaya bicara Abu Janda dalam perdebatan tersebut kasar dan tidak pantas disampaikan di ruang publik, khususnya di media televisi.

“Saat offair dia ngaku bukan bilang **jing tapi **jir. Saya bilang dia bohong. Video ini menjelaskan rusaknya orang ini. TV dan media lain harusnya melarang orang ini dengan keras,” tulis Feri dalam unggahannya.

Perdebatan soal peran Amerika Serikat

Baca juga: Profil Permadi Arya alias Abu Janda, Debat Panas hingga Diusir dari Acara Talkshow TV

Perdebatan antara Prof Ikrar dan Abu Janda bermula dari pembahasan mengenai peran Amerika Serikat dalam sejarah Indonesia, yang dikaitkan dengan diskusi konflik geopolitik terkini antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam diskusi tersebut, Prof Ikrar menyampaikan pandangannya bahwa keterlibatan Amerika Serikat pada akhir 1940-an tidak terlepas dari kepentingan geopolitik global, terutama kekhawatiran terhadap pengaruh komunisme di Indonesia.

Ia merujuk pada buku Revolution and Nationalism in Indonesia karya George McTurnan Kahin.

“Coba Anda baca Revolution and Nationalism in Indonesia, tulisan Kahin. Di situ dijelaskan mengapa Amerika turun tangan karena ketakutan bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan komunis,” kata Ikrar dalam diskusi tersebut.

Namun pandangan itu disanggah oleh Abu Janda yang menilai Amerika Serikat tetap memiliki peran besar dalam mendorong Belanda meninggalkan Indonesia.

“Betul, karena ada pemberontakan di Madiun itu memang betul. Tapi apa pun itu Pak, Amerika itu perannya besar Pak,” ujar Abu Janda.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini