News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Polemik Saiful Mujani

Saiful Mujani Serukan Jatuhkan Prabowo, Golkar: Kebencian Tak Boleh Hilangkan Objektivitas

Penulis: Fersianus Waku
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PEMAKZULAN PRESIDEN – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026). Ia menegaskan pemakzulan presiden harus melalui mekanisme konstitusional dan mengingatkan agar kebencian tidak menghilangkan objektivitas dalam demokrasi.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menegaskan setiap pernyataan di ruang publik harus mempertimbangkan dampak sosial dan politik yang lebih luas, terutama jika narasi tersebut berkaitan dengan upaya menjatuhkan atau pemakzulan kepemimpinan nasional.

Hal ini disampaikan Idrus menanggapi video ceramah pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, yang memunculkan narasi ajakan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto.

Meski Saiful telah membantah dan menyebut pernyataannya dipotong dari konteks, Idrus memandang perdebatan di publik sudah terlanjur melebar dan berpotensi menimbulkan kegaduhan.

“Dalam konteks politik yang dinamis, narasi seperti itu bisa ditafsirkan liar. Ini bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal dampak yang ditimbulkan,” kata Idrus di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026).

 
Mekanisme Konstitusional

Idrus menegaskan demokrasi Indonesia memiliki mekanisme jelas dalam pergantian kekuasaan.

“Pemakzulan itu proses serius. Ada tahapan konstitusional yang panjang, melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR. Tidak bisa digiring lewat opini publik atau narasi tidak utuh yang provokatif,” ujarnya.

Baca juga: Harga BBM Subsidi Tak Naik, Menko Airlangga: Bisa Kita Pertahankan sampai Bulan Desember 2026

 
Kebencian Jangan Hilangkan Objektivitas

Idrus mengingatkan di era digital, persepsi publik mudah terbentuk dari potongan informasi.

“Kalimat yang dipotong bisa mengubah makna. Dan di situlah awal dari disinformasi. Maka kehati-hatian adalah keharusan, bukan pilihan,” ungkapnya.

Ia berpesan agar perbedaan sikap politik tidak melunturkan objektivitas.

“Jangan karena kebencian terhadap seseorang, kita kehilangan objektivitas. Demokrasi tidak boleh dirusak oleh emosi dan prasangka. Demokrasi harus dijaga dengan akal sehat, etika, kedewasaan sikap dan tanggung jawab,” tegasnya.

Idrus menambahkan, sikap kritis memang dibutuhkan dalam demokrasi, namun harus tetap objektif.

“Bukan provokasi-provokasi subjektif tendensius yang berpotensi memperlebar polarisasi, di tengah kompleksitas tantangan bangsa yang mempersyaratkan soliditas dan solidaritas yang kokoh dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” imbuhnya.

 
Isi Video Saiful Mujani

Jagat media sosial dihebohkan oleh video ceramah Saiful Mujani yang diunggah akun Instagram @leveenia dan kanal Youtube Sociocorner.

Dalam video itu, Saiful menyebut prosedur formal pemakzulan tidak akan efektif menghadapi Prabowo.

“Alternatifnya bukan prosedur formal impeachment itu. Itu tidak akan jalan. Yang jalan hanya ini, bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo, hanya itu,” ucap Saiful.

“Kalau nasihati Prabowo tidak bisa juga. Bisanya hanya bisa dijatuhkan. Itulah menyelamatkan, tapi bukan menyelamatkan Prabowo, melainkan menyelamatkan diri kita dan bangsa ini,” ujarnya.

Video tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Gus Islah Bahrawi, Ubedilah Badrun, Romo Setyo Wibowo, Dipo Satria Ramli, Prof. Saiful Mujani, Dr. Sukidi, Feri Amsari, serta Almas Sjafrina.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini