TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut belasan nyawa meninggalkan dampak mendalam, baik secara material maupun psikologis bagi masyarakat luas.
Pengamat perkeretaapian Joni Martinus mengungkapkan, selain hilangnya nyawa dan ratusan korban luka, insiden ini juga menghancurkan pelayanan publik secara masif.
Ribuan penumpang terpaksa mengantre dan membatalkan perjalanan akibat gangguan operasional KRL dan kereta jarak jauh.
Hal itu disampaikan Joni Martinus dalam program On Focus Tribunnews, Selasa (28/4/2026).
"Kerugian materialnya sangat besar. Harga satu gerbong itu mahal, belum lagi perbaikan jalur rel dan biaya operasional pasca-kecelakaan yang harus ditanggung," kata Joni.
Namun, menurut Joni, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan moda transportasi kereta api.
Ia menekankan bahwa langkah pemulihan citra tidak bisa hanya dilakukan dengan kata-kata, melainkan harus dengan bukti nyata pembenahan sistem keselamatan yang menyeluruh agar masyarakat kembali merasa aman bepergian menggunakan kereta api.
"Ini menjadi PR besar bagi PT KAI. Ada faktor trauma di masyarakat ketika mendengar nama KRL atau kereta api. Trust masyarakat sedang dipertaruhkan di sini," tandasnya.
Korban Kecelakaan Kereta
Update, Selasa (28/4/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat 15 orang, sementara 84 orang lainnya mengalami luka dan tengah mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Seluruh korban luka telah dirujuk ke berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi dan sekitarnya, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina dan RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan, korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
"Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan," ungkap Bobby dalam keterangan resminya, Selasa (28/4/2026).
KAI juga memastikan seluruh biaya pengobatan bagi korban luka serta biaya pemakaman korban meninggal dunia ditanggung sepenuhnya oleh pihak asuransi bersama KAI.
Wakil Menteri Perhubungan Suntana menyatakan bahwa Kementerian Perhubungan bersama seluruh pihak terkait terus melakukan penanganan intensif.
Baca tanpa iklan