News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Lab 45 Ingatkan Bahaya Oligarki yang Melanggengkan Ketimpangan Sosial

Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

LUNCURKAN BUKU - Lembaga riset strategis Laboratorium Indonesia 2045 atau Lab 45 meluncurkan buku berjudul Jam Pasir Indonesia: Menakar Masa Depan Indonesia Dari Butir Kuasa Dan Ketimpangan, yang berisi tentang proyeksi skenario menuju Indonesia Emas 2045.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penasihat senior Laboratorium 45, Hariyadi, menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika oligarki yang terus menguat. 

Menurutnya, jika konsolidasi oligarki berlanjut, maka visi Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai. 

“Begitu juga kita akan melihat kalau konsolidasi oligarkis itu berkesinambungan, inovasi-inovasi untuk kebaikan ke-Indonesiaan pasti akan terhambat,” ujarnya dalam peluncuran buku Jam Pasir Indonesia di Jakarta.

 

Lab 45 atau Laboratorium Indonesia 2045 adalah lembaga kajian independen yang menghimpun akademisi, praktisi, dan birokrat lintas bidang.

Lab 45 dipimpin oleh Jaleswari Pramodhawardani sebagai Kepala Laboratorium Indonesia 2045.

Hariyadi menambahkan, dampak dari konsolidasi oligarki bukan hanya pada stagnasi inovasi, tetapi juga bisa menurunkan kelas menengah dan memicu social unrest. 

Ia menilai, kondisi ini akan menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional. “Kalau kelas menengah turun, maka akan terjadi keresahan sosial yang bisa mengganggu pembangunan,” katanya, dikutip Selasa (5/5/2026).

Sebagai jalan keluar, Hariyadi menawarkan skenario reinstitusionalisasi demokrasi. Menurutnya, demokrasi yang kuat adalah satu-satunya cara untuk memastikan Indonesia tetap berada di jalur menuju 2045.

“Dengan demokrasi yang kokoh, kita bisa menghindari jebakan oligarki dan konflik identitas,” tegasnya.

Baca juga: 5G dan AI Dinilai Jadi Pilar Transformasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Kepala Lab 45, Jaleswari Pramodhawardani, memperkuat pandangan tersebut dengan menjelaskan makna metafora jam pasir. Ia menyebut jam pasir sebagai simbol waktu yang berjalan satu arah dan terbatas. 

“Ia memadukan dua kebenaran yang sering kita pisahkan, bahwa kita punya pilihan, dan bahwa pilihan itu punya batas waktu,” ujarnya.

Jaleswari menekankan bahwa optimisme harus disertai dengan kewaspadaan kritis. 

“Optimisme bukan tanpa kritik, bukan juga parade keputusasaan, melainkan sebuah kewaspadaan bahwa Indonesia masih mungkin maju tetapi tidak otomatis,” katanya. Dengan demikian, visi Indonesia Emas 2045 harus dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan.

Buku Jam Pasir Indonesia sendiri berisi analisis multidisipliner dari para penulis lintas bidang, mulai dari ekonomi, politik, antropologi, hingga birokrasi. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini