News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Natalius Pigai Cerita Pernah Diperiksa Komite Etik Dewan HAM PBB

Penulis: Mario Christian Sumampow
Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DIPERIKSA - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai berbagi cerita ihwal dirinya pernah diperiksa Komite Etik Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Itu terjadi saat ia masih menjabat anggota dari Komisi Nasional HAM pada periode 2012-2017.

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai berbagi cerita ihwal dirinya pernah diperiksa Komite Etik Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Itu terjadi saat ia masih menjabat anggota dari Komisi Nasional HAM pada periode 2012-2017.

“Saya ini mungkin satu-satunya komisioner yang pernah diperiksa PBB, Dewan HAM PBB, Kode Etik Pelanggaran HAM. Saya diperiksa,” ucap Pigai dalam keynote speech pada kegiatan Kelas Jurnalisme HAM di Green Forest Resort, Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (20/05/2026).

“Mungkin komisioner lain belum pernah diperiksa, ya?" sambung dia.

Pigai menyebut dia dilaporkan ke Dewan HAM PBB oleh 33 lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Padahal menurutnya ia tengah mengambil langkah untuk melindungi warga sipil dari kekerasan militer.

Dalam proses pemeriksaan itu, eks Direktur Jenderal HAM, Hafid Abbas turut hadir untuk memberikan keterangan kepada PBB.

Hafid menjelaskan langkah Pigai merupakan bentuk demarkasi untuk melindungi sipil dari penetrasi kekerasan militer.

“Waktu itu saya dilaporkan oleh 33 LSM Republik Indonesia. Yang ada LSM-LSM ini, laporkan saya padahal saya melindungi rakyat kecil," ungkapnya.

PBB akhirnya, kata Pigai, memutuskan dirinya tidak bersalah.

Indeks Gini Indonesia

Pigai juga mengatakan Indeks Gini Indonesia terbaik dalam 15 tahun terakhir selama masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Selama pemerintahan Prabowo pimpin, Indeks Gini Indonesia terbaik dalam 15 tahun terakhir."

Salah satu alasannya, lanjut Pigai adalah karena anggaran program makan bergizi gratis (MBG) telah sampai ke masyarakat.

“Kita sudah ada pada posisi 0,363. Berarti ada distribusi yang mulai merata di seluruh Indonesia. Karena anggaran MBG turun ke rakyat, pendidikan, kesehatan,” tutur Pigai.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini