Sejarah merajut sendiri telah berlangsung sangat lama. Catatan menunjukkan bahwa teknik merajut sudah dikenal sejak abad ke-5 di Mesir dan kemudian menyebar ke Eropa serta berbagai wilayah dunia melalui jalur perdagangan.
Pada awalnya, merajut digunakan untuk membuat pakaian yang berfungsi melindungi tubuh dari cuaca.
Seiring perkembangan zaman dan teknologi, hasil rajutan kemudian menjadi bagian penting dalam industri mode modern, mulai dari sweater, syal, topi, hingga berbagai produk fesyen lainnya.
Hari Merajut di Tempat Umum Sedunia diprakarsai oleh Danielle Landes dengan tujuan menghilangkan anggapan bahwa merajut hanya dilakukan oleh kalangan tertentu.
Melalui kegiatan ini, para perajut berkumpul di ruang publik sambil berbagi keterampilan, pengalaman, dan inspirasi.
Popularitas peringatan ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Jika pada 2005 hanya terdapat sekitar 25 acara lokal di seluruh dunia, jumlahnya berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan kegiatan yang diselenggarakan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Tiongkok, Irlandia, hingga Afrika Selatan.
Lebih dari sekadar hobi, kegiatan merajut kini juga sering dikaitkan dengan aksi sosial, seperti pembuatan perlengkapan untuk rumah sakit, bayi prematur, proyek seni komunitas, hingga kampanye lingkungan.
Keempat peringatan internasional tersebut menunjukkan bahwa tanggal 13 Juni bukan sekadar hari biasa.
Dari olahraga softball, kampanye kesadaran albinisme, pelestarian budaya boneka, hingga komunitas perajut dunia, semuanya membawa pesan tentang inklusivitas, kreativitas, kesehatan, dan kebersamaan yang relevan bagi masyarakat global saat ini.
(Tribunnews.com/Farra)
Baca tanpa iklan