Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia Ari Junaedi mengapresiasi pertemuan perdana antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan presiden terpilih Joko Widodo di Bali.
Menurut Ari pertemuan ini menjadi tonggak terpenting dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Karena baru kali ini proses transisi kekuasaan relatif berjalan baik antara presiden sebelumnya dengan presiden penerusnya.
"Sejarah menunjukkan transisi kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto berjalan tak mulus, bahkan menimbulkan luka. Demikian juga dari Soeharto ke BJ Habibie, dari Habibie ke Gus Dur, dari Gus Dur ke Megawati serta dari Megawati ke SBY," jelas Ari kepada Tribunnews.com di Jakarta, Jumat (29/8/2014).
Setidaknya, lanjut Ari, pertemuan SBY dan Jokowi kemarin akan membuka tradisi "baru" dalam politik nasional. Hal ini juga menjelaskan dengan gamblang warisan pemerintahan presiden lama kepada presiden baru layak diteruskan.
Ari melihat SBY berharap apa yang salah selama pemerintahannya tidak dilanjutkan Jokowi. Dengan demikian Jokowi belajar untuk tidak mengulangi hal sama. Jokowi pasti akan meminta agar program Nawa Cita yang diperjuangkan selama kampanye di beri ruang di APBN 2014.
"Buktinya SBY mempersilahkan Tim Transisi Jokowi-JK untuk berkoordinasi dengan organ-organ pemerintahan SBY. Komunikasi politik yang ditampilkan SBY-Jokowi menjadi pemandangan menyejukkkan di tengah kegalauan masalah kelangkaan distribusi BBM," tukas Ari Junaedi
Agenda pertemuan ini membahas mekanisme transisi pemerintahan termasuk aspek fiskal di APBNP 2014 dan APBN 2015 serta persoalan subsidi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang berimbas pada kelangkaan BBM di sejumlah daerah.