Dalam diskusi panel yang dihadiri perwakilan Google Indonesia, Rockwell Automation, Nestlé, hingga Syngenta Indonesia, disimpulkan bahwa pekerja masa depan tidak boleh lagi hanya mengandalkan kemampuan teknis yang kaku.
Lulusan vokasi dituntut adaptif dan memiliki kemampuan analisis yang kuat untuk mendampingi teknologi AI.
Melalui kemitraan yang transparan, program pemagangan ini juga membuka peluang bagi perusahaan manufaktur atau user untuk memantau langsung bibit-bibit unggul sejak dari bangku kuliah.
Ketika standar kompetensi yang diajarkan di kampus sudah selaras dengan standar di lapangan, proses rekrutmen akan jauh lebih efisien, dan mata rantai pasokan talenta lokal untuk industri masa depan dapat terjaga dengan matang.
Baca tanpa iklan