“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Menurut Ustaz Rikza, takwa inilah yang seharusnya menjadi orientasi utama saat mengisi waktu ngabuburit.
2. Ngabuburit yang Sia-sia dan Berpotensi Dosa
Di sisi lain, ia mengingatkan agar umat Islam berhati-hati terhadap aktivitas yang kurang bermanfaat, seperti:
- Scroll video tanpa kontrol
- Menonton konten yang membuka aurat
- Tayangan gibah dan fitnah
- Nongkrong tanpa arah
- Bermain game berlebihan hingga lalai ibadah
“Memang tidak membatalkan puasa. Tapi khawatirnya menghilangkan esensi dan pahala puasa itu sendiri,” ujar Dewan Penasihat Rumah Zakat ini.
Ia menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga pandangan, lisan, dan hati. Sebagai penguat, Ustaz Rikza juga mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat jahil. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia mengatakan:
‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa pengendalian diri menjadi inti ibadah puasa. Tingkatan Puasa Menurut Ulama
Dalam kajiannya, Ustaz Rikza turut menjelaskan pembagian puasa menurut Imam Al-Ghazali, yakni:
- Puasa umum (awam) – Sekadar menahan diri dari yang membatalkan.
- Puasa khusus – Menjaga anggota tubuh dari dosa.
Puasa paling khusus – Puasa hati, penuh harap dan takut kepada Allah SWT.
Ngabuburit yang diisi hal sia-sia, kata dia, bisa membuat seseorang hanya berada di level pertama. Ustaz Rikza Maulan menegaskan, main game atau scroll media sosial saat ngabuburit tidak otomatis membatalkan puasa.
Namun umat Islam perlu bijak dalam memilih aktivitas agar tidak kehilangan pahala Ramadan.
“Jangan sampai kita menahan lapar dan haus, tapi justru mendapatkan dosa karena tidak menjaga pandangan dan lisan,” pesannya.
Ramadan adalah bulan pengendalian diri dan peningkatan kualitas iman.
Mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah tentu lebih utama dibanding sekadar membuang waktu tanpa makna.
--
Baca tanpa iklan