News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Ramadan Momentum Hijrah Hati dan Perilaku

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

kolumnis ramadan: Eko Bahtiar, SE., Sy., M.EI., AWP - Kaprodi Perbankan Syariah FEBI IAIN Pontianak

Hijrah perilaku juga menyentuh ranah etika kerja. Bagi sebagian orang, puasa dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas atau bersikap kurang ramah dengan dalih lelah dan lapar. Padahal, justru dalam kondisi berpuasa, integritas diuji. Mampukah kita tetap profesional, jujur, dan bertanggung jawab meskipun fisik terasa lebih ringan? Jika ya, maka Ramadan telah berhasil membentuk karakter.

Di era digital, hijrah hati dan perilaku memiliki dimensi baru. Media sosial kerap menjadi ruang pamer kebaikan. Ibadah, sedekah, dan aktivitas keagamaan terkadang dipublikasikan secara berlebihan demi validasi sosial.

Ramadan mengajak kita untuk kembali pada keikhlasan melakukan kebaikan bukan untuk dilihat, tetapi untuk mendekat kepada Tuhan. Hijrah digital berarti menggunakan teknologi secara bijak: mengurangi konten negatif, menyebarkan pesan positif, dan menjaga lisan termasuk lisan virtual dari ujaran kebencian.

Momentum Ramadan juga relevan dalam membangun keluarga yang lebih harmonis. Waktu berbuka bersama, salat berjamaah, dan tadarus dapat menjadi sarana mempererat hubungan yang mungkin renggang karena kesibukan.

Hijrah hati dalam keluarga berarti saling memaafkan, mengurangi ego, dan memperbanyak dialog. Banyak konflik rumah tangga sebenarnya berakar pada komunikasi yang buruk dan kurangnya empati. Ramadan memberi peluang untuk memperbaikinya.

Lebih jauh lagi, hijrah yang ditawarkan Ramadan adalah perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Kedewasaan ini ditandai oleh kemampuan untuk konsisten dalam kebaikan, tidak mudah goyah oleh godaan, serta mampu memaknai setiap peristiwa hidup sebagai bagian dari rencana Tuhan.

Orang yang matang secara spiritual tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga rendah hati dan terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks kebangsaan, Ramadan dapat menjadi momentum hijrah kolektif. Bangsa yang besar bukan hanya ditopang oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga oleh moralitas warganya.

Jika Ramadan mampu mendorong individu untuk lebih jujur, disiplin, dan peduli, maka dampaknya akan terasa pada tatanan sosial yang lebih luas. Korupsi, misalnya, bukan hanya masalah sistem, tetapi juga masalah karakter.

Hijrah hati dari cinta dunia berlebihan menuju kesadaran akan pertanggungjawaban akhirat dapat menjadi fondasi untuk membangun integritas publik.

Tentu, hijrah bukan proses instan. Ia memerlukan niat, komitmen, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Banyak kebiasaan buruk yang telah mengakar bertahun-tahun tidak akan hilang hanya dalam semalam. N

amun, Ramadan memberikan titik awal yang kuat. Ia seperti mata air yang menyegarkan jiwa yang kering. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan kesegaran itu menguap begitu saja setelah bulan berlalu?

Salah satu indikator keberhasilan Ramadan adalah munculnya rasa rindu terhadap ibadah, bukan rasa lega karena beban telah usai. Jika setelah Ramadan kita merasa kehilangan suasana salat malam, tadarus, dan sedekah, itu pertanda hati telah tersentuh. Rindu adalah bukti bahwa hijrah sedang berlangsung.

Akhirnya Ramadan mengajarkan bahwa perubahan sejati selalu dimulai dari dalam. Dunia mungkin tidak langsung berubah, tetapi ketika hati berubah, cara kita memandang dunia ikut berubah. Dari sinilah perilaku baru lahir.

Hijrah hati melahirkan hijrah perilaku; hijrah perilaku membentuk budaya; dan budaya yang baik akan melahirkan peradaban yang bermartabat. Ramadan bukan sekadar bulan ritual, melainkan bulan revolusi batin. Ia mengundang setiap insan untuk berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya: sudahkah aku menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun lalu?

Jika jawaban itu belum memuaskan, maka pintu hijrah masih terbuka lebar. Sebab pada hakikatnya, Ramadan adalah kesempatan kedua bahkan mungkin kesempatan kesekian yang diberikan Tuhan agar manusia kembali menemukan arah hidupnya.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini