News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Puasa Obat Kedunguan

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

kolumnis ramadan: Eka Hendry Ar - Dosen IAIN Pontianak

Mengapa intelektualitas juga tumbuh saat kita berpuasa, karena di bulan ramadhan kita dianjurkan untuk banyak melakukan muhasabah (introspeksi), mengevaluasi diri, agar pikiran dan hati kita terbimbing kepada jalan kebenaran (jalan cahaya). Kata tadarrus quran, boleh jadi dimaknai sempit sebatas tilawah quran, namun dalam makna yang luas dapat dimaknai juga sebagai belajar, mendalami, menekuni kandungan al quran.

Kalau kosa katanya kita rubah sedikit dengan tadarrus sosial, maka maknaya bisa berarti mempelajari, mendalami dan menganalisis segala yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Realitas sosial dan politik menjadi bahan bacaan, yang harus ditadaruskan.  

Apakah konsep ini arbitrer (dipaksakan), tentu saja tidak.  Terbatas ruang untuk mendedahkan semua konsep dalam tulisan yang terbatas ini, tapi ringkasnya dapat dinyatakan bahwa, dimensi spiritualitas dan religiositas dari puasa, tidak hanya berdimensi personal, akan tetapi lebih bersfektif sosial.  Karena, perintah menahan lisan untuk tidak berkata kasar ini tentu berdimensi kepada orang lain.

Berlaku sabar, tentu juga terkait dengan hubungan dengan orang lain.  Menekan dan mengendalikan ambisi dan syahwat, juga berdimensi terhadap orang lain.  Jadi, salah betul jika, puasa dianggap ibadah monolitik, hanya untuk anda pribadi.  Semua syari’at puasa dimensinya dari pribadi untuk sosial (komunal). 

Akan berkurang kualitas puasa kita manakala, kita berpuasa, tapi membiarkan manusia lain kelaparan.  Kita berpuasa, tetapi tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekeliling kita.  Membiarkan kebatilan dan kerusakan terjadi tanpa sedikitpun kepedulian.  Jadi, puasa itu bukan egoistic, puasa itu mengajarkan kita menjadi manusia yang berdimensi sosial.

Kebagusan akhlaq dan budi pekerti kita secara personal bukan untuk kebanggaan diri, tapi untuk membaguskan akhlaq dan budi pekerti kolektif kita.  Puasa yang hanya sibuk membaguskan diri sendiri, tapi tidak membaguskan relasi sosial dan lingkunganya adalah bentuk kedungguan dalam beragama.  

Agama itu untuk memperbaiki kualitas manusia-manusia yang terhimpun dalam apa yang disebut dengan masyarakat.  Memperbaiki kualitas masyarakat, adalah bagian dari upaya memperbaiki negara.   

Dapat disimpulkan dengan mujahaddah puasa yang baik dan berpengetahuan, baik syari’at dan hakikat, akan menghidupkan sinyal spiritualitas, religiusitas dan intelektualitas seseorang.  

Dengannya, akan menghidupkan manusia multi dimensi, tidak berhenti pada station baik secara personal, akan tetapi meneruskan perjalannya menuju station baik secara sosial.  Puasa yang demikian tidak hanya akan mendapatkan pahala, akan tetapi juga sekaligus sebagai obat anti kedungguan. wa Allah a’alam bi shawab

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini