Menurut dr Nanda, puasa memberi kesempatan tubuh untuk melakukan reset alami.
Saat tidak ada asupan makanan sepanjang hari, sistem tubuh termasuk jantung mendapat waktu istirahat dari ritme makan yang terus-menerus.
Ia menggambarkan bagaimana pada hari biasa orang cenderung makan tanpa jeda: pagi sarapan, siang makan, sore ngemil, malam makan lagi.
Bahkan di sela-selanya masih ada kopi atau camilan tambahan.
Tubuh sebenarnya punya sinyal kapan harus beristirahat, terutama pada malam hari. Dalam kondisi normal, detak jantung akan menurun saat waktu tidur tiba.
Namun jika waktu istirahat terus ditunda, jantung seperti dipaksa bekerja lebih lama.
“Tetap jantung saya harus turun. Iya, tetap jantung. Kalau udah malam itu harus turun," imbuhnya.
Artinya, malam hari adalah momen alami bagi jantung untuk menurunkan ritme kerjanya.
Baca juga: Jadwal Imsakiyah Kota Jayapura Minggu, 8 Maret 2026 Besok: Subuh Pukul 04:29 WIT
Dr Nanda menegaskan, tidak ada alasan menjadikan puasa sebagai pembenaran untuk tidur lebih larut dari biasanya.
“Kita nggak tuh puasa harus tidur lebih lama. Enggak. Tidur kita harus cukup sehari," lanjutnya.
Ia mencontohkan, jika seseorang tidur pukul 21.00 dan bangun sekitar pukul 03.30 untuk sahur, itu sudah sekitar enam jam. Durasi tersebut dinilai cukup bagi orang dewasa.
Yang sering terjadi justru kebiasaan menunda tidur karena suasana Ramadan terasa lebih “hidup”.
Ada tayangan yang ingin ditonton, obrolan yang diperpanjang, atau aktivitas lain yang membuat waktu istirahat terpangkas.
Padahal, ketika tubuh terus dipaksa aktif tanpa jeda, jantung tidak mendapat fase pemulihan yang optimal.
Jantung Bukan Mesin Tanpa Batas
Baca tanpa iklan