Dalam penjelasannya, dr Nanda mengibaratkan jantung seperti orang yang terus berlari. Kalau dipacu tanpa henti, tubuh pasti akan kelelahan.
Begitu juga dengan jantung. Ia memang tidak boleh berhenti, tetapi ritmenya harus turun saat malam hari. Jika tidak, kelelahan akan menumpuk.
Karena itu, tidur menjadi faktor yang sangat krusial selama Ramadan.
Puasa bisa menjadi momen terbaik untuk mereset tubuh. Namun reset itu tidak akan maksimal jika di saat yang sama kita justru mengurangi waktu istirahat.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang lebih mindful terhadap tubuh sendiri.
Mendengar sinyal lelah, menghargai kebutuhan tidur, dan menjaga ritme alami jantung.
Sebab menjaga kesehatan jantung saat puasa bukan soal apa yang dimakan saat sahur dan berbuka saja, tetapi juga soal seberapa cukup kita memberi waktu tubuh untuk benar-benar beristirahat.
(Tribunnews.com/Deni)
Baca tanpa iklan