TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk menahan lapar dan dahaga melalui ibadah puasa, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak berbagai amalan spiritual. Selain membaca Al-Qur’an, berzikir, dan meningkatkan sedekah, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW juga dianjurkan sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah. Dalam tradisi keislaman, shalawat memiliki kedudukan istimewa karena tidak hanya menjadi ungkapan rindu umat kepada Nabi, tetapi juga merupakan amalan yang diperintahkan langsung dalam Al-Qur’an serta diyakini membawa keberkahan dan syafaat bagi orang yang mengamalkannya.
Baca juga: Menag Larang ASN Kemenag Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran 2026
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam agar memperbanyak shalawat, khususnya selama bulan Ramadan yang dikenal sebagai bulan penuh keberkahan dan pengampunan.
Menurutnya, shalawat merupakan ungkapan cinta dan kerinduan kepada Nabi Muhammad yang dilantunkan melalui doa dan pujian kepada beliau.
“Shalawat atau selawat ialah ungkapan rasa cinta dan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengucapkan lafaz-lafaz selawat seperti: Allahumma shalli ‘ala Muhammad,” ujar Nasaruddin Umar dalam refleksi Ramadan ke-24 yang disampaikan dalam keterangannya, Minggu (15/3/2026).
Dalam ajaran Islam, shalawat memiliki kedudukan yang sangat penting karena perintah untuk bershalawat kepada Nabi telah disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an.
Nasaruddin Umar mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ahzab Ayat 56 yang menyebutkan bahwa Allah dan para malaikat juga bershalawat kepada Nabi.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya,” tulisnya.
Menurut Nasaruddin, penggunaan kata yushalluna dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa shalawat kepada Nabi berlangsung terus-menerus. Hal ini menjadi pengingat bahwa umat Islam juga dianjurkan untuk terus melantunkan shalawat sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad, shalawat juga diyakini memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa orang yang memperbanyak shalawat akan mendapatkan perhatian dari Rasulullah serta berpeluang memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat.
“Siapa yang berselawat kepadaku maka aku tahu dan di hari kiamat aku akan memberinya syafaat, pembelaan,” demikian sabda Nabi Muhammad yang dikutip oleh Nasaruddin Umar.
Karena itu, memperbanyak shalawat dipandang sebagai salah satu cara bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah sekaligus berharap mendapatkan pertolongan beliau di hari akhir.
Baca juga: Perjalanan Kasus Eks Menag Yaqut Cholil, Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji Kini Ditahan
Tradisi Shalawat di Indonesia
Di Indonesia, shalawat tidak hanya menjadi amalan pribadi, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Lantunan shalawat kerap terdengar dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, majelis dzikir, hingga acara peringatan hari-hari besar Islam.
Menurut Nasaruddin Umar, tradisi memuji Nabi melalui shalawat telah lama berkembang dalam sejarah umat Islam di Indonesia. Salah satu bentuknya adalah pembacaan Berzanji, yang berisi pujian serta kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad.
Baca tanpa iklan