News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bayi Jantung di Luar

Siti Arrahma Sempat Dirawat di RS Ibnu Sina Pekanbaru

Editor: Harismanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Siti Arrahma, bayi dengan jantung di luar

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Doddy Vladimir/Hendra Efivanias
TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Siti Arrahma, bayi yang lahir dengan jantung berada di luar tubuh terbaring lemah di ranjang inkubator Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina Pekanbaru, Kamis (15/9/2011). Di tangan bayi mungil tersebut, masih terpasang infus. Sementara, jantungnya masih dibungkus dengan perban steril.

Bayi pasangan Khairudin (25) dan Diana (23) tersebut memang sudah dirujuk pihak RS Permata Hati, Mandau ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Namun, sesampainya di RSUD, Siti ditolak karena tidak ada lagi ruangan yang kosong. Akhirnya, sekitar pukul 19.30 Wib, Siti dirujuk dan dirawat di RSI Ibnu Sina.

Saat dikunjungi Tribun, Siti masih dirawat di ruang inkubasi. Beberapakali perawat tampak sibuk melakukan tindakan-tindakan medis pada bayi tersebut. Sementara sang ayah terpaksa menunggu di ruangan berbeda.

Saat dijumpai wartawan, Khairudin terlihat tidak bersemangat sebagaimana lazimnya pria lain yang baru mendapatkan anak. Wajah pria yang bekerja sebagai kuli bangunan di Desa Sialang Rimbun, Muara Basung, kecamatan Pinggir tersebut sangat kuyu. Jelas sekali dia kelelahan.

"Sebelumnya kita sudah bawa ke RSUD Arifin Achmad. Tapi karena penuh akhirnya dirujuk ke RSI Ibnu Sina ini," tutur Khairudin. Menurut dia, dokter telah menyarankan agar Siti dirujuk ke rumah sakit di Jakarta atau Padang. Karena di dua kota itulah ada dokter yang mampu menangani masalah bedah jantung anak.

Namun, Khairudin mengaku masih terkendala dengan pendanaan. "Karena itu saya berharap ada orang yang mau menjadi donatur," ungkapnya dengan suara pelan.

Dia juga berharap, pemerintah memberikan bantuan untuk perawatan anaknya itu. Meski tergolong cukup parah, Khairudin mempunyai harapan besar anaknya benar-benar bisa sembuh.

Sementara itu, ahli bedan anak RSI Ibnu Sina, dr Ismar SpBA menuturkan, kasus seperti ini jarang terjadi. Dia mengakui di rumah sakit itu juga belum ada dokter yang spesialis bedah jantung anak. Meskipun demikian pihaknya telah melakukan beberapa langkah medis pada Siti.

Siti mengalami kelainan jantung bawaan. Dimana, sejak lahir organ (jantung) bayi tersebut posisinya tidak di dalam tubuh. Menurut Ismar, saat masih di dalam kandungan, terjadi gangguan penutupan pada organ dalam tubuh bayi. Gangguan ini menimbulkan defek atau lubang yang membuat posisi jantung justru di luar tubuh.

Normalnya, seluruh organ dalam tubuh bayi sudah terbungkus pada usia kehamilan 3 hingga 4 bulan. Kelainan ini sebenarnya bisa terpantau jika sang ibu melakukan ultrasonografi (USG) yang benar di saat kehamilan.

Karena penanganan Siti merupakan kompetensi dokter bedah jantung anak, pihaknya hanya melakukan penanganan sementara. Misalnya dengan memasukkan Siti dalam inkubator agar tidak mengalami hipotermia. Disamping itu, jantung juga telah ditutup dengan perban steril.
"Tindakan ini perlu dilakukan karena dengan kondisi jantung di tubuh bagian luar akan mudah terkontaminasi," terangnya.

Ditambahkan dia, kelainan seperti ini biasanya diikuti dengan sindrom-sindrom tertentu. Artinya, tidak hanya jantung bayi yang akan bermasalah. Satu diantaranya yang sudah terpantau pihak rumah sakit yaitu, langit-langit mulut yang sumbing. Karena, itulah mereka merasa perlu melakukan evaluasi pada kondisi bayi yang berat tubuhnya 2.700 gram ini.

Ditanya tentang kondisi terkini, Ismar menilai secara umum masih bagus. Jantungnya pun berdetak 120 kali per menit. Artinya masih normal. Tapi secara medik, angka harapannya untuk sembuh memang kecil.

Saat ini, pihak rumah sakit telah mempersiapkan proses perujukan Siti ke Jakarta. Namun sebelumnya, orangtuanya harus mendapatkan surat Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Surat itu hanya bisa didapat dari RSUD Arifin Achmad.

Menurut Ismar, kejadian seperti ini sebenarnya dapat dicegah jika sang ibu rutin memeriksakan kehamilannya. Berdasarkan aturan kedokteran, minimal pemeriksaan itu dilakukan empat kali selama kehamilan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini