TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA - Untuk memenuhi permintaan pasar yang besar inilah, para jagal tidak punya banyak pilihan.
Jangankan sapi jantan, mencari sapi betina saja mereka kewalahan.
Akibatnya, para jagal tidak ketat menyeleksi. Jadinya, tidak sedikit dari sapi-sapi betina yang dipotong itu bunting.
Artinya, sapi-sapi produktif mulai dipotong, padahal ini jelas dilarang undang-undang dan peraturan daerah (Perda) Jatim.
”Berkali-kali kami selamatkan anakan sapi yang induknya disembelih. Waktu baru dikeluarkan dari perut induknya, pedhet (anak sapi) itu sehat. Tetapi tak lama kemudian juga ikut disembelih,” kata Apriyadi, jagal sapi asal Wonokromo.
Apriyadi cukup getol mencatat temuan sapi bunting disembelih. Biasanya para jagal baru tahu sapi itu bunting, setelah membedah badan sapi itu.
“Hitungan saya, tak kurang dari 15 persen sapi betina bunting disembelih,” tegasnya,
Taksiran Apriyadi, tiap malam ada 5-10 janin dari berabagai usia yang dikeluarkan dari rahim sapi betina potong.
Surya menyaksikan sendiri janin-janin sapi itu usai dikeluarkan dari perut induknya.
Janin itu dikumpulkan di belakang los penyembelihan. Ada satu dua orang yang mau membeli janin itu dengan sistem borongan.
Muthowif, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur, mengatakan, pemotongan sapi betina produktif terpaksa dilakukan lantaran ketersediaan sapi jantan sangat minim.
Soal apakah betina bunting ikut dipotong, menurut Muthowif, itu terjadi karena jagal tidak tahu.
“Begitu sapinya disembelih, tahu-tahu ada yang bergerak di perutnya. Isinya janin dengan umur bervariasi,” ujar Muthowif sambil menunjukkan sejumlah foto anak sapi dikeluarkan perut induk yang baru disembelih. (ben/idl/uji)